Petani Utara Brantas Hadapi Kendala Cuaca di Musim Tanam Tembakau

  • 07 Jun 2026 15:57 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang - Petani tembakau di kawasan utara Sungai Brantas, Kabupaten Jombang, masih menghadapi tantangan cuaca pada awal musim tanam tahun ini. Intensitas hujan yang masih cukup tinggi membuat sebagian besar petani menunda penanaman karena kondisi lahan belum memenuhi syarat untuk budidaya tembakau, sehingga progres tanam berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.

Berdasarkan pendataan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jombang, hingga saat ini realisasi penanaman baru mencapai sekitar 50 persen dari total lahan yang dipersiapkan petani. Kondisi tersebut menunjukkan musim tanam belum berlangsung secara merata di seluruh sentra tembakau wilayah utara Brantas.

Ketua APTI Jombang, Lasiman, mengatakan keterlambatan musim tanam dipengaruhi hujan yang masih turun saat sebagian petani telah bersiap mengolah lahan. Meski demikian, perkembangan musim tanam tahun ini dinilai masih lebih baik dibandingkan musim sebelumnya.

"Kalau dibandingkan pola tanam pada kondisi normal memang ada keterlambatan. Tetapi jika melihat pengalaman tahun lalu, pelaksanaan musim tanam kali ini justru sedikit lebih maju meski cuaca belum sepenuhnya mendukung," ujar Lasiman, Minggu, 7 Juni 2026.

Ia menjelaskan, Kecamatan Kudu dan Ngusikan menjadi wilayah dengan perkembangan penanaman paling tinggi. Sebaliknya, Kecamatan Ploso masih mencatat luasan tanam yang relatif rendah karena banyak lahan sawah yang masih menyimpan kadar air cukup tinggi setelah hujan turun dalam beberapa pekan terakhir.

Menurutnya, kondisi tanah yang belum benar-benar kering membuat petani memilih menunda penanaman untuk menghindari risiko tanaman tumbuh kurang optimal. Tembakau membutuhkan media tanam yang gembur dan tidak tergenang agar perkembangan akar dapat berlangsung dengan baik.

"Mayoritas petani masih menunggu kondisi lahan benar-benar siap. Jika tanah masih basah, pertumbuhan tembakau kurang maksimal dan berpotensi memengaruhi hasil panen nantinya," katanya.

Di sisi lain, petani yang telah mulai menanam harus melakukan perawatan lebih intensif. Saluran air di sekitar lahan diperbaiki dan diperdalam agar genangan hujan dapat segera terbuang sehingga tidak merusak tanaman yang baru dipindahkan ke lahan.

Salah seorang petani tembakau di Kecamatan Ploso, Syafi'i, mengaku musim tanam tahun ini mengalami kemunduran akibat hujan yang terus turun. Bahkan lahan yang telah dipersiapkan sebelumnya sempat terendam sehingga proses penanaman harus ditunda.

"Kami sebenarnya sudah menyiapkan lahan sejak akhir Mei lalu, tetapi hujan membuat sawah kembali tergenang. Akhirnya penanaman harus menunggu sampai kondisi tanah memungkinkan," kata Syafi'i.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Ir. Moch Rony, mengatakan anomali cuaca dalam beberapa tahun terakhir berdampak terhadap luas tanam tembakau di daerah Jombang. Meski demikian, pihaknya optimistis luas tanam dapat kembali meningkat apabila kondisi cuaca memasuki pola musim kemarau yang normal.

"Harapan kami cuaca ke depan lebih stabil sehingga petani bisa memaksimalkan musim tanam. Jika kondisi iklim mendukung, potensi luas tanam tembakau di Jombang dapat kembali berada pada kisaran ideal seperti tahun-tahun sebelumnya," ucapnya.

Untuk mengantisipasi cuaca yang masih tidak menentu, Dinas Pertanian mengimbau petani menerapkan teknik budidaya yang lebih adaptif, seperti memperdalam saluran drainase dan menggunakan pola tanam satu baris dalam setiap guludan. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko genangan air sekaligus menjaga produktivitas tembakau di sentra pertanian utara Sungai Brantas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....