Ribuan Anak Kediri Putus Sekolah, Pare Tertinggi
- 06 Jun 2026 19:44 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Persoalan anak putus sekolah di Kabupaten Kediri masih menjadi perhatian serius. Meski angka anak tidak sekolah (ATS) mengalami penurunan hingga 50 persen dibandingkan 2024, jumlahnya masih tergolong tinggi untuk wilayah di Pulau Jawa.
Wakil Ketua Pergunu Kabupaten Kediri sekaligus Guru MTsN 7 Kediri, Syamsudin, mengungkapkan berdasarkan data Kemendikdasmen, terdapat sekitar 6.160 anak tingkat SD yang sempat tercatat tidak bersekolah. Berkat upaya pendampingan dan pendekatan yang dilakukan guru serta sekolah, lebih dari 5.000 anak berhasil kembali melanjutkan pendidikan.
"Namun masih tersisa sekitar 770-an anak di tingkat SD yang benar-benar tidak bersekolah," kata Syamsudin kepada RRI, Sabtu 6 Juni 2026.
Syamsudin menyebut Kecamatan Pare menjadi wilayah dengan angka anak putus sekolah tertinggi di Kabupaten Kediri. Menurutnya, luas wilayah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingginya jumlah anak tidak sekolah di kecamatan tersebut.
"Hal yang membuat kita miris adalah Kecamatan Pare menjadi penyumbang terbesar angka anak putus sekolah. Setelah Pare, wilayah lain yang menyusul adalah Ngadiluwih, Plosoklaten, Mojo, dan Ngancar," ujarnya.
Selain itu, sebanyak 8.977 lulusan SD atau MI tercatat tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP atau MTs. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 2,37 persen dari total lulusan.
Menurut Syamsudin, faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama tingginya angka anak putus sekolah. Kondisi ini banyak ditemukan di wilayah lereng Gunung Kelud dan Gunung Wilis, di mana sebagian besar orang tua bekerja sebagai petani penggarap dengan pendapatan yang tidak menentu.
"Faktor ekonomi ini sangat berpengaruh terhadap keputusan anak untuk berhenti sekolah. Meskipun sudah ada program pendidikan gratis, masih ada biaya-biaya kecil yang harus ditanggung orang tua sehingga membuat mereka menyerah lebih dulu," jelasnya.
Selain persoalan ekonomi, faktor sosial juga dinilai turut berkontribusi. Pergaulan negatif, perundungan (bullying), hingga pengaruh kelompok sebaya kerap membuat anak kehilangan motivasi untuk melanjutkan pendidikan.
Sementara itu, Guru Pembimbing Khusus Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Moch. Syafi'i, mengatakan pemerintah daerah terus melakukan pelacakan data dan penguatan program sekolah ramah anak untuk menekan angka anak tidak sekolah.
"Melalui program sekolah ramah anak dan nyaman, kami berupaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan terbuka agar anak-anak tetap termotivasi melanjutkan pendidikan," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....