Inovasi Mahasiswa Hadirkan Teknologi Pembakar Sampah Minim Polusi
- 30 Mei 2026 20:51 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang – Mahasiswa Kuliah di Luar Kampus Merdeka Merdeka Belajar Kampus Merdeka (KDLK MBKM) 2026 Kelompok 03 Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) menghadirkan teknologi pembakar sampah minim polusi berupa Rocket Stove di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan.
Inovasi tersebut diperkenalkan sebagai alternatif pengelolaan sampah rumah tangga yang dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan metode pembakaran terbuka yang masih banyak dilakukan masyarakat.
Program tersebut berangkat dari temuan mahasiswa selama menjalankan kegiatan pengabdian di desa. Mereka mendapati masih banyak sampah yang menumpuk di sejumlah titik, termasuk di tepi jalan dan area sekitar sungai, sehingga diperlukan solusi yang dapat membantu mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
Ketua KDLK MBKM Kelompok 03 Universitas Hasyim Asy’ari, Jamilul Khuluk, mengatakan Rocket Stove dipilih karena mampu membantu proses pembakaran sampah dengan emisi asap yang lebih rendah dibandingkan pembakaran konvensional.
“Kami melihat persoalan sampah masih cukup nyata di Desa Plabuhan. Karena itu, kami berinisiatif menghadirkan teknologi sederhana yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai alternatif pengelolaan sampah yang lebih baik dan lebih ramah lingkungan,” ujarnya, Sabtu, 30 Mei 2026 kepada RRI.

Selain memperkenalkan alat tersebut, mahasiswa juga memberikan sosialisasi mengenai tata cara penggunaan dan perawatannya agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Edukasi juga dilakukan melalui pemasangan plakat informasi yang memuat penjelasan mengenai jenis-jenis sampah serta waktu yang dibutuhkan sampah untuk terurai secara alami.
Menurut Jamilul, proses pembuatan hingga uji coba Rocket Stove berlangsung sekitar satu minggu. Pelaksanaan program mendapat dukungan dari Karang Taruna dan pemerintah desa sehingga seluruh tahapan kegiatan dapat berjalan dengan lancar.
“Kolaborasi dengan Karang Taruna dan perangkat desa sangat membantu, terutama dalam proses persiapan, pembangunan alat, hingga pelaksanaan sosialisasi kepada masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan, salah satu kendala yang dihadapi selama pelaksanaan program adalah menentukan lokasi yang tepat untuk penempatan alat. Setelah melalui koordinasi dengan berbagai pihak, Rocket Stove akhirnya ditempatkan di area samping Balai Desa Plabuhan yang dinilai strategis dan mudah diakses warga.
“Lokasi tersebut dipilih karena menjadi area yang cukup sering dilalui masyarakat dan sebelumnya masih ditemukan aktivitas pembakaran sampah secara terbuka,” jelasnya.
Melalui program ini, mahasiswa berharap teknologi yang diperkenalkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat dan menjadi salah satu solusi dalam mengatasi persoalan sampah di tingkat rumah tangga.
“Kami berharap Rocket Stove ini dapat terus digunakan dan memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta mengurangi dampak pencemaran akibat pembakaran sampah,” tuturnya.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Plabuhan, Dimas Kurniawan Saputra, menilai inovasi tersebut memberikan manfaat karena menghadirkan cara pengelolaan sampah yang lebih tertata sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
“Selain membantu mengurangi dampak pembakaran sampah, program ini juga menambah pengetahuan warga mengenai pengelolaan sampah yang lebih baik dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar,” kata Dimas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....