Jaga Kesejahteraan Hewan Kurban, Sempurnakan Ibadah Iduladha

  • 26 Mei 2026 10:54 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID - Menjelang Hari Raya Iduladha, kesibukan di berbagai lapak penjualan dan tempat penggemukan hewan kurban kian meningkat. Namun, ibadah kurban bukan sekadar ritual menyembelih dan membagikan daging kepada yang membutuhkan. Aspek penting yang sering kali luput dari perhatian masyarakat adalah penerapan animal welfare atau kesejahteraan hewan, yang menjadi penentu kualitas ibadah sekaligus kesehatan daging yang dikonsumsi.

drh. Syahmi Fariza sebagai seorang Veterinary Nutrisionist (Ahli Nutrisi Hewan), mengatakan kesejahteraan hewan menjelang penyembelihan mencakup lima prinsip kebebasan, di antaranya bebas dari rasa haus dan lapar, serta bebas dari rasa takut dan stres. Hewan yang stres sebelum disembelih akan mengalami lonjakan hormon kortisol dan adrenalin yang merusak kualitas daging.

“Oleh karena itu, memastikan hewan mendapatkan pakan, minum, dan tempat bernaung yang layak sebelum hari H adalah langkah awal yang krulial,” ucapnya dalam postingannya (@doknut).

Selain faktor tempat penampungan, proses transportasi dari peternakan menuju lokasi penjualan atau masjid juga harus diperhatikan. Banyak ditemukan kasus hewan kurban diangkut dengan cara yang tidak manusiawi, seperti diikat terlalu erat atau berdesakan di dalam truk tanpa pelindung terik matahari. Perlakuan kasar ini tidak hanya menyiksa satwa, tetapi juga berisiko membuat hewan cedera bahkan mati sebelum sempat dikurbankan.

“Saat hari penyembelihan tiba, panitia kurban diimbau untuk memiliki pemahaman yang mumpuni terkait teknik penanganan hewan (animal handling). Menjatuhkan hewan secara paksa dan kasar sangat tidak direkomendasikan karena memicu kepanikan luar biasa,” tambahnya.

Doknut sapaan akrabnya menjelaskan bahwa penggunaan metode perebahan yang halus dan higienis justru akan membuat hewan lebih tenang, sehingga proses penyembelihan dapat berjalan lebih cepat dan aman bagi petugas.

Prinsip lain yang tidak kalah penting adalah menyembunyikan proses penyembelihan dari pandangan hewan kurban lainnya yang sedang mengantre. Hewan memiliki insting kuat dan bisa merasakan ketakutan hebat jika melihat sesamanya disembelih di depan mata mereka. Selain itu, memastikan pisau yang digunakan benar-benar tajam adalah kewajiban mutlak agar proses pemutusan saluran napas dan darah terjadi dalam satu kali gerakan tanpa menyiksa.

“Ketika hewan diperlakukan dengan penuh kasih sayang sesuai prinsip animal welfare, darah akan keluar secara maksimal, menghasilkan daging yang higienis, sehat, dan aman untuk dibagikan. Itulah kenapa banyak yang merasa daging kurban rasanya alot gak enaklah, karena perlakuan kepada hewannya kurang,” katanya.

Masyarakat kini diharapkan semakin kritis dan peduli terhadap proses di balik sepotong daging kurban yang diterima. Memahami dan menerapkan kesejahteraan hewan bukan semata-mata pemenuhan regulasi pemerintah, melainkan bentuk pertanggungjawaban moral dan penyempurnaan esensi ibadah kurban itu sendiri, yaitu menebar kebaikan dan kasih sayang sesama makhluk hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....