Budidaya Sayuran Hidroponik jadi Tren Baru Usaha Gen-Z di Jombang

  • 19 Mei 2026 16:56 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang — Budidaya sayuran hidroponik kini mulai menjadi pilihan baru bagi kalangan generasi muda di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Di tengah keterbatasan lahan pertanian dan meningkatnya tren konsumsi pangan sehat, metode ini dinilai lebih praktis, modern, serta memiliki peluang usaha yang menjanjikan bagi anak muda.

Perkembangan hidroponik di Jombang dalam beberapa tahun terakhir terlihat semakin masif, baik di kawasan perkotaan maupun desa. Berbagai jenis sayuran seperti selada, pakcoy, kangkung, hingga sawi hijau mulai banyak dibudidayakan menggunakan sistem instalasi sederhana berbahan pipa paralon dan greenhouse mini.

Salah satu yang menekuni usaha tersebut adalah Dina Luwita Zafayanti (27), lulusan pertanian dari Universitas Brawijaya. Perempuan Gen-Z asal Jombang itu memilih mengembangkan pertanian hidroponik karena melihat adanya peluang pasar yang terus berkembang, terutama untuk kebutuhan sayuran segar dan higienis.

Menurut Dina, ketertarikannya pada hidroponik bermula sejak masih menempuh pendidikan di bangku kuliah. Ia menilai metode pertanian modern tersebut lebih relevan dengan kondisi saat ini, terutama bagi anak muda yang memiliki keterbatasan lahan maupun modal untuk bertani secara konvensional.

“Hydroponik itu menarik karena bisa dilakukan di lahan sempit, perawatannya lebih terukur, dan hasil tanamannya juga lebih bersih. Selain itu, anak muda sekarang mulai tertarik pada pertanian yang lebih modern dan fleksibel,” ujarnya, Selasa, 19 Mei 2026.

Ia menjelaskan, budidaya hidroponik membutuhkan ketelatenan dalam mengatur sirkulasi air dan nutrisi tanaman. Setiap hari, kondisi air, kadar nutrisi, hingga tingkat keasaman harus dipantau agar pertumbuhan tanaman tetap optimal. “Kalau hidroponik itu tantangannya ada di konsistensi perawatan. Nutrisi harus stabil, air tidak boleh kotor, dan tanaman harus rutin dicek supaya tidak terserang penyakit,” katanya.

Dina memilih menanam jenis sayuran sawi karena memiliki masa panen relatif singkat, sekitar 25 hingga 35 hari. Selain lebih cepat dipasarkan, permintaan sayuran hidroponik di Jombang juga terus meningkat, terutama dari rumah makan, katering sehat, hingga konsumen rumah tangga.

Dalam pemasaran, ia memanfaatkan platform media sosial untuk menjangkau pembeli. Menurutnya, pola penjualan secara digital lebih efektif karena sebagian besar konsumen hidroponik berasal dari kalangan muda yang terbiasa melakukan pemesanan secara daring.

“Sekarang pembeli banyak yang pesan lewat media sosial. Jadi pemasaran juga harus mengikuti kebiasaan konsumen saat ini,” jelasnya.

Dina menilai minat masyarakat terhadap sayuran sehat terus meningkat. Kondisi tersebut membuat budidaya sayuran hidroponik memiliki prospek yang cukup menjanjikan, terutama bagi generasi muda yang ingin terjun ke sektor pertanian dengan pendekatan yang lebih modern.

“Pertanian sekarang sebenarnya punya peluang besar untuk anak muda. Yang penting mau belajar dan konsisten. Hidroponik bisa dimulai dari skala kecil dulu, lalu berkembang sesuai kemampuan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....