Menyambut Kebangkitan Nasional dalam Bingkai Arus Disrupsi Digital

  • 19 Mei 2026 14:17 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri — Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026 ini, dinilai menjadi momentum penting untuk merefleksikan kesiapan bangsa menghadapi arus disrupsi digital yang terus berkembang. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan perubahan pola kehidupan masyarakat, semangat kebangkitan nasional dinilai perlu diwujudkan melalui penguatan kualitas sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, dan tetap memiliki karakter kebangsaan.

Co-Founder Kediri Technopark, Emmanuel Rizky Yoga Pratama, menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman. Dewasa ini, teknologi justru dapat menjadi sarana untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing generasi muda di era digital.

“AI saat ini dapat menjadi senjata untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas masyarakat. Karena itu, masyarakat tidak perlu takut tergantikan, melainkan harus mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal,” ujarnya, Selasa, 19 Mei 2026.

Rizky mengatakan masyarakat saat ini tengah memasuki era transisi menuju pemanfaatan AI secara lebih luas. Karena itu, generasi muda dinilai tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu didorong menjadi kreator, inovator, dan problem solver agar mampu bersaing di tengah perubahan global.

“AI justru dapat menjadi booster kita untuk meningkatkan produktivitas serta inovasi dalam pengembangan diri. Karena itu, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi hal yang penting,” katanya.

Ia menambahkan, semangat kebangkitan nasional di era sekarang dapat diwujudkan melalui peningkatan literasi digital, penguasaan teknologi, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas kebangsaan.

Sementara itu, akademisi sekaligus Kaprodi PG PAUD Universitas Nusantara PGRI Kediri, Anik Lestariningrum, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi juga perlu diimbangi dengan penguatan karakter sejak usia dini. Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik dan kemampuan teknologi, tetapi juga menyangkut moral, empati, serta kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi digital.

“Sistem pembelajaran digital tetap harus mengedepankan etika dan batasan penggunaan teknologi, khususnya bagi anak sejak usia dini,” ujarnya.

Anik menilai tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” relevan dengan kondisi saat ini, mengingat masa depan bangsa ditentukan dari bagaimana generasi muda dipersiapkan menghadapi perubahan sosial dan digital yang berlangsung cepat.

“Di tengah derasnya arus digitalisasi, masyarakat harus mampu menyaring informasi dan memberikan batasan yang tepat bagi anak sejak dini agar perkembangan teknologi tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan,” katanya.

Makna kebangkitan nasional saat ini dinilai tidak lagi terbatas pada perjuangan fisik, melainkan bagaimana masyarakat mampu menyiapkan generasi muda yang unggul, kritis, adaptif, dan berkarakter kuat untuk menghadapi tantangan masa depan di era disrupsi digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....