SD Muhammadiyah 1 Wringinanom Raih Penghargaan dari Ecoton

  • 11 Mei 2026 14:54 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • SD Muhammadiyah 1 Wringinanom, Gresik meraih Piagam Penghargaan Program Sekolah Ekologis dari Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation)
  • Pendidikan lingkungan diintegrasikan langsung ke dalam pembelajaran di setiap kelas, kantin beroperasi tanpa plastik sekali pakai, dan refill store tersedia sebagai alternatif kemasan sachet
  • Anak-anak belajar mengamati biota sungai sebagai indikator apakah sungai masih bersih atau sudah tercemar

RRI.CO.ID, Kediri - SD Muhammadiyah 1 Wringinanom, Gresik meraih Piagam Penghargaan Program Sekolah Ekologis dari Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation). "Penghargaan ini bukan seremoni biasa. Namun, pengakuan atas hampir satu dekade kerja konsisten membangun budaya hidup berkelanjutan yang mengakar kuat di ruang kelas, kantin, lapangan, hingga tepi sungai yang berbatasan langsung dengan halaman sekolah," kata Perwakilan Ecoton, Tonis Arianto, dalam keterangannya Senin, 11 Mei 2026.

Pada penyerahan penghargaan yang bertepatan dengan Milad ke-21 SD Muhammadiyah 1 Wringinanom, Gresik, ujar Tonis, Ecoton juga menyerahkan Modul Sekolah Ekologis panduan pembelajaran lingkungan bagi guru dan siswa yang disusun dalam empat tema. "Tema ini tentang pengelolaan sampah, energi terbarukan, konservasi keanekaragaman hayati, dan pangan sehat," kata Tonis.

Ia meyakini, modul tersebut bukanlah buku teks tambahan. Tetapi, merupakan peta jalan bagi sekolah yang ingin menjadikan kepedulian lingkungan bukan sekadar topik pelajaran, melainkan cara hidup.

"Terlebih, Program Sekolah Ekologis sejak awal dirancang bukan untuk menghasilkan siswa yang hafal teori daur ulang, melainkan untuk membentuk generasi yang secara sadar dan mandiri menjaga lingkungannya," katanya.

Kepala Sekolah SDMuhammadiyah 1Wringinanom Gresik, Kholiq Idris, menceritakan, gagasan menjadikan sekolah ini sebagai sekolah ekologis sudah tumbuh sejak 2016, kemudian dijalankan dengan lebih serius mulai 2018. "Sejak dulu sebenarnya kami sudah memiliki komitmen menjadikan sekolah ini sebagai sekolah ekologis. Banyak usaha yang kami lakukan bersama seluruh warga sekolah dan para mitra lingkungan," kata Kholiq Idris.

Ia mengemukakan, komitmen itu menghasilkan rekam jejak yang berbicara sendiri hingga mendapat penghargaan Adiwiyata tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga puncaknya yakni meraih Adiwiyata Mandiri pada 2025. "Perjalanan ini tidak ditempuh sendiri. Ecoton, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), guru, siswa, wali murid, dan masyarakat sekitar sekolah menjadi bagian dari ekosistem kolaborasi yang menopang setiap langkahnya," katanya.

Koordinator Adiwiyata sekolah, Khoirun Nisa' mengatakan, yang membedakan SD Muhammadiyah 1 Wringinanom dari sekolah-sekolah lain yang mengklaim peduli lingkungan adalah cara menempatkan isu ini. Sebab, isu lingkungan bukan mata pelajaran tambahan yang bisa dilewati.

"Pendidikan lingkungan diintegrasikan langsung ke dalam pembelajaran di setiap kelas. Misi sekolah kami, salah satunya adalah membentuk perilaku peduli lingkungan dan budaya lingkungan, karena itu, program sekolah ekologis dan Adiwiyata kami kaitkan langsung dengan pembelajaran di kelas," kata Khoirun Nisa'.

Pendekatan ini, imbuh Khoirun Nisa', terlihat dalam keseharian sekolah. Misalnya, kantin beroperasi tanpa plastik sekali pakai, refill store tersedia sebagai alternatif kemasan sachet. Di setiap kelas, galon isi ulang menggantikan air minum kemasan.

"Sampah organik tidak dibuang, tapi diolah menggunakan bata terawang menjadi pupuk kompos. Prinsip reduce dan reuse dipraktikkan bersama TPS 3R Wringinanom, yang mengajak siswa terlibat langsung dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas," katanya.

Tak hanya itu, lanjutnya, sekolah juga membentuk kader lingkungan yang diberi nama Eco Warrior, siswa yang setiap minggu melakukan inspeksi sampah plastik di kelas, dan setiap tahun menerbitkan buku bertema lingkungan. Posisi geografis sekolah yang berbatasan langsung dengan sungai dimanfaatkan sebagai laboratorium hidup bersama Ecoton.

"Para siswa melakukan biomonitoring sungai melalui metode biotilik, belajar membaca kesehatan ekosistem perairan dari biota yang hidup di dalamnya. Anak-anak belajar mengamati biota sungai sebagai indikator apakah sungai masih bersih atau sudah tercemar," kata Khoirun Nisa'.

Sejumlah siswa sekolah tersebut, Zahrotul Azizah dan Erlen Gladys Hermanu, dua anggota Eco Warrior, menjadi cermin dari apa yang bisa terjadi ketika pendidikan lingkungan benar-benar meresap. "Kami belajar banyak tentang cara mengolah sampah, membuat kompos, dan eco-enzyme. Kegiatan ini membuat kami lebih peduli agar lingkungan menjadi lebih baik dan lebih bersih," kata Zahrotul Azizah.

Hingga saat ini, keduanya sudah membawa kebiasaan itu keluar dari gerbang sekolah, mengajak keluarga memilah sampah organik dan anorganik, meninggalkan plastik sekali pakai, dan mulai membangun rutinitas kecil yang punya dampak besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....