Alumni GMNI Kediri Menyoroti Relevansi Nasionalisme sebagai Perekat Persatuan

  • 10 Mei 2026 14:53 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Sejumlah aktivis dalam Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Kota dan Kabupaten Kediri menyoroti relevansi Nasionalisme sebagai perekat persatuan
  • Dari kongres ke kongres, GMNI selalu menegaskan garis perjuangan yang berpihak pada rakyat
  • GMNI harus tetap menjadi rumah perjuangan, tempat kader belajar berpikir kritis sekaligus berani mengambil sikap

RRI.CO.ID, Kediri - Sejumlah aktivis dalam Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Kota dan Kabupaten Kediri menyoroti relevansi Nasionalisme sebagai perekat persatuan.

Pernyataan ini tertuang dalam agenda Sarasehan Persatuan Alumni GMNI Kediri, di Kantor Bacaini.id, Jalan Guyangan Paron, Ngasem, Kabupaten Kediri, Sabtu malam, 9 Mei 2026.

"Relevansi nasionalisme dan marhaenisme ajaran Bung Karno di tengah polarisasi politik menjadi sorotan dalam sarasehan Persatuan Alumni GMNI Kediri," kata alumnus GMNI Universitas Jember, Asjhari Madjid, saat memberikan paparannya di hadapan segenap peserta sarasehan.

Menurutnya, tujuan kehadiran puluhan mantan aktivis mahasiswa yang berkumpul guna merefleksikan kembali garis perjuangan organisasi.

"Pada pemaparan ini, kami mengulas kembali sejarah lahirnya GMNI dari kongres ke kongres," kata Asjhari.

Ia menegaskan, sejak awal berdiri organisasi GMNI ini berakar pada semangat nasionalisme dan marhaenisme.

"GMNI ini, lahir dari rahim perjuangan, dari semangat kaum muda yang ingin menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," katanya.

Ia mengatakan, Nasionalisme, sebagaimana diajarkan Bung Karno, bukan chauvinisme sempit, melainkan wujud cinta tanah air yang berlandaskan keadilan sosial. Sementara, marhaenisme yang mengajarkan keberpihakan pada rakyat kecil semakin relevan di tengah ketimpangan ekonomi dan sosial.

"Marhaenisme ialah perjuangan untuk memberi tempat yang layak bagi kaum kecil, agar mereka tidak menjadi korban sistem yang menindas," katanya.

Tak hanya itu, pihaknya berharap, GMNI menjadi wadah kaderisasi mahasiswa yang berkomitmen pada cita-cita proklamasi. Dari kongres ke kongres, GMNI selalu menegaskan garis perjuangan yang berpihak pada rakyat.

"Dengan sejarah panjang itu, harus menjadi bahan refleksi generasi sekarang agar tidak terlepas begitu saja dari akar ideologi bangsa," katanya.

Adapun, Ketua PA GMNI Kabupaten Kediri, Agus Edi Winarto, mengemukakan, melalui diskusi yang juga dihadiri kader GMNI aktif dari berbagai perguruan tinggi di Kediri ini berkembang pada isu-isu aktual kebangsaan. Mulai dari melemahnya solidaritas sosial, krisis moral politik, hingga tantangan ekonomi rakyat kecil.

"Para alumni menegaskan bahwa GMNI harus tetap menjadi rumah perjuangan, tempat kader belajar berpikir kritis sekaligus berani mengambil sikap," kata Agus Edi Winarto.

Di samping itu, lanjutnya, pertemuan alumni GMNI ini juga menujukkan komitmen bahwa perjuangan mahasiswa tidak berhenti di kampus. Semangat juang tetap hidup dalam diri para alumni, yang kini berkiprah di berbagai bidang.

"Idealisme boleh diuji oleh zaman, tapi api juang tidak pernah padam. Sekali GMNI tetap GMNI," kata Agus Edi Winarto.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....