Hari Pendidikan Momentum Ubah Paradigma Keseragaman jadi Kesetaraan
- 02 Mei 2026 19:48 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Hari Pendidikan Nasional 2026
- Momentum mengubah keseragaman menjadi kesetaraan
- Siswa berkebutuhan khusus dan reguler di sekolah inklusif
RRI.CO.ID, Kediri – Hari Pendidikan Nasional yang diperingati hari ini, Sabtu, 2 Mei 2026, merupakan momentum mengubah paradigma masyarakat bahwa sekolah bukan lagi tempat yang selalu identik dengan keseragaman, namun menjadi lingkungan pendidikan yang inklusif dengan kesetaraan antara siswa berkebutuhan khusus dengan siswa reguler.
Melalui Dialog Interaktif dalam Program ‘Ruang Publik’, Novie Anggriani, Sekretaris Kelompok Kerja Guru Pendamping Khusus (KKG GPK) Kabupaten Kediri mengatakan bahwa Hari Pendidikan Nasional adalah momentum tepat untuk menggaungkan bahwa ‘sekolah untuk semua’ harapannya bukan hanya sekedar slogan saja.
“Sudah saatnya anak-anak berkebutuhan khusus bisa berdampingan dengan anak-anak tipikal (red. sebutan untuk siswa non-difabel) dalam lingkungan pendidikan yang sama,” kata Novie di awal sesi perbincangan, Sabtu siang.
Dikatakannya, Kabupaten Kediri memiliki 26 kecamatan dan tidak semua anak berkebutuhan khusus dapat mengakses Sekolah Luar Biasa.
Sementara itu, menurut Tanti Ratna Wulandari, Bendahara KKG GPK Kabupaten Kediri, butuh perubahan paradigma besar-besaran di lingkup pendidik, orang tua anak-anak berkebutuhan khusus, lingkungan akademik, hingga lingkup masyarakat. Untuk itulah optimalisasi keberadaan sekolah inklusif menjadi satu hal prinsip yang harus dilakukan.
“Inklusif bukan berarti menyamakan siswa berkebutuhan khusus dengan siswa tipikal, tetapi memperlakukan dan memberikan layanan pendidikan secara adil. Sedangkan untuk adil tentunya tidak harus sama,” ujar Tanti yang juga merupakan Kepala SDN Tempurejo 1, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.
Di pertengahan segmen ‘Ruang Publik’, Novie kembali menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini adalah image bahwa siswa berkebutuhan khusus tidak dapat digabung dengan siswa reguler. Menurutnya, masyarakat pada umumnya berpendapat bahwa hal ini akan mengganggu dan mengurangi konsentrasi belajar.
“Modifikasi kurikulum pembelajaran untuk siswa berkebutuhan khusus tentu sudah dilakukan sesuai kapasitas mereka. Kemendikdasmen memiliki Program Pelatihan Pendekatan Inklusif dengan target sasaran 1500 guru untuk memperkuat pendidikan inklusif,” ucap Novie seraya mengapresiasi kepala sekolah yang turut menyukseskan sekolah inklusif di Kabupaten Kediri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....