Menjelang Musim Kemarau, Disperta Jombang Petakan Wilayah Rawan Kekeringan
- 26 Apr 2026 15:43 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang - Menjelang musim kemarau 2026, Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang mulai memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan, terutama pada lahan pertanian yang bergantung pada pasokan air irigasi.
Langkah ini juga dilakukan menyusul prakiraan penurunan curah hujan akibat fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada pertengahan tahun. Meski intensitasnya tergolong lemah, penurunan curah hujan hingga 20–40 persen dinilai tetap berisiko terhadap keberlangsungan sektor pertanian.
Kepala Bidang Perlindungan Pascapanen dan Pemasaran Hasil Pertanian Disperta Jombang, Ahmad Jani Masyhudi, menjelaskan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026. Periode tersebut beririsan dengan pelaksanaan rehabilitasi Bendung Jatimlerek serta perbaikan saluran irigasi Mrican Kanan.
“Untuk daerah yang terdampak perbaikan jaringan irigasi, kami menganjurkan agar petani tidak menanam padi pada musim tanam ketiga,” ujarnya, Minggu, 26 April 2026.
Ia mengungkapkan, sejumlah kecamatan yang masuk dalam peta kerawanan antara lain Bandar Kedungmulyo, Megaluh, sebagian wilayah Tembelang, Peterongan, hingga Kesamben.
“Wilayah-wilayah tersebut cukup bergantung pada suplai air dari jaringan irigasi, sehingga saat distribusi terganggu, risikonya cukup besar,” katanya.
Selain itu, daerah irigasi Siman yang mencakup 12 kecamatan juga menjadi perhatian khusus. Menurutnya, gangguan distribusi air di kawasan tersebut dapat meningkatkan potensi kekeringan hingga gagal panen.
“Jika aliran air tidak mencukupi, dampaknya bisa meluas hingga menyebabkan puso di sejumlah lahan,” jelasnya.
Berdasarkan catatan, di tahun sebelumnya, kekeringan sempat terjadi di beberapa wilayah seperti Sumobito, Peterongan, Perak, dan Gudo, yang mengakibatkan sebagian lahan pertanian mengalami gagal panen.
Sebagai upaya antisipasi, Disperta mendorong percepatan masa tanam saat ketersediaan air masih mencukupi, optimalisasi pemanfaatan embung dan waduk, serta penyediaan sarana pendukung seperti pompa dan sumur air.
Petani juga diimbau menyesuaikan pola tanam serta memilih varietas yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
“Koordinasi dengan pemerintah pusat, provinsi, dan instansi terkait terus kami lakukan agar dampak kekeringan dapat ditekan semaksimal mungkin,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....