Atap Kediri: Komunitas Pendaki yang Fokus pada Aksi Sosial dan Lingkungan
- 20 Apr 2026 23:42 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan menjadi fondasi utama berdirinya Komunitas Ekspedisi Atap Kediri pada April 2025 lalu. Muhammad Yusuf, selaku Dewan Penasihat komunitas tersebut, menjelaskan bahwa komunitas ini dicetuskan oleh Wisnu atas dasar keprihatinan terhadap perilaku pendaki yang sering membuang sampah sembarangan di area pegunungan.
Kini, komunitas tersebut telah berkembang pesat dengan jumlah anggota mencapai 200 orang yang tersebar di seluruh wilayah Kediri. “Komunitas Atap Kediri memiliki misi yang menggabungkan aspek olahraga dan sosial. Selain rutin melakukan pendakian, sebanyak 25 pengurus aktif menginisiasi gerakan pembersihan sampah di jalur pendakian dan pemasangan petunjuk jalan setiap minggunya,” katanya.
Ia menambahkan, komunitas ini tidak hanya fokus di area pegunungan, komunitas ini juga menunjukkan kepedulian sosial di perkotaan dengan rutin membagikan makanan setiap Kamis dan Jumat malam, mulai dari wilayah Pemkab hingga kawasan Stadion Brawijaya Kediri. Nama "Atap Kediri" sendiri dipilih bukan tanpa alasan filosofis. Yusuf menjelaskan bahwa nama tersebut merujuk pada puncak-puncak tertinggi yang ada di wilayah Kediri Raya.
“Sebenarnya di Kediri itu ada seven summit yang atau puncak, yang semuanya didaerah kabupaten dan Kota Kediri, dan semuanya masuk dalam konservasi dari komunitas,” ucapnya dalam dialog Galeri Komunitas, Senin, 20 April 2026.
Salah satu kontribusi nyata yang paling berkesan dalam satu tahun terakhir adalah pemasangan plakat permanen di Puncak Gunung Wilis melalui jalur Air Terjun Dolo. Aksi yang awalnya dimulai dari ide sederhana ini ternyata mampu menggerakkan massa dalam jumlah besar dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah melalui Dinas Sosial, Dinas Budaya, serta Perhutani.
Hingga saat ini, komunitas telah berhasil menanam empat plakat permanen berbahan pipa besi setinggi 2,5 meter sebagai penanda puncak. Dalam waktu dekat, tepatnya pada 3 Mei mendatang, Komunitas Atap Kediri berencana melakukan aksi serupa di Gunung Klotok. Kegiatan tersebut tidak hanya fokus pada pemasangan plakat dan pembersihan jalur, tetapi juga akan diisi dengan hiburan live music untuk menarik minat generasi muda.
Yusuf menekankan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk merubah paradigma masyarakat bahwa gunung bukanlah sekadar tempat pamer di media sosial, melainkan area yang harus dijaga kelestariannya. Untuk meningkatkan literasi lingkungan, komunitas ini juga aktif mengadakan seminar bagi anak-anak untuk memberikan wawasan tentang gunung dan etika penjelajah. Yusuf sangat menekankan konsep Leave No Trace atau tidak meninggalkan jejak, terutama terkait sampah plastik yang sulit terurai.
Ia mengimbau agar setiap pendaki memiliki kesadaran untuk membawa kembali sampahnya turun ke bawah guna menjaga ekosistem hutan dan kejernihan sumber air di wilayah pegunungan. Terakhir, Yusuf memberikan tips bagi para penjelajah pemula agar selalu memperhatikan persiapan fisik dan keamanan sebelum melakukan ekspedisi.
Mengingat cuaca yang sering tidak menentu, pendaki wajib memantau prakiraan cuaca, menghitung estimasi waktu perjalanan, serta membawa perbekalan dan peralatan yang memadai. Menurutnya, kesiapan yang matang adalah kunci utama agar eksplorasi alam dapat berjalan aman tanpa merugikan lingkungan maupun diri sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....