Pendekatan MTS menuju Agroekosistem Pertanian Berkelanjutan

  • 18 Apr 2026 13:23 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • manajemen tanaman sehat
  • agroekosistem pertanian berkelanjutan
  • mewujudkan swasembada pangan

RRI.CO.ID, Kediri – Sistem Manajemen Tanah Sehat (MTS) merupakan pendekatan tentang bagaimana mengelola agroekosistem pertanian berkelanjutan demi terciptanya keamanan pangan. Hal ini disampaikan oleh Dyasmita Putri, S.P., Penyuluh Pertanian Ahli Pertama, Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Wilayah Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jum’at, 18 April 2026.

“Pendekatan MTS bertujuan untuk mewujudkan swasembada pangan yang merupakan program prioritas Presiden Prabowo,” kata Dyas, sapaan akrabnya, dalam dialog interaktif Program ‘Ruang Publik’ dengan tema ‘Indonesia Sehat’.

“Teknisnya adalah melalui pendampingan kepada kelompok petani dalam Program Sekolah Lapang Padi,” ujarnya.

Dalam pengolahan tanaman, tanah menjadi media utama para petani karena merupakan sumber nutrisi untuk berbagai jenis tanaman termasuk padi. Melalui pendampingan yang secara rutin dilakukan oleh Tim BPP, penggunaan pupuk berbahan kimia secara perlahan dapat dikurangi dan digantikan dengan pupuk organik melalui tahapan penggemburan tanah terlebih dahulu.

Sebagai wujud implementasi strategi berbasis agroekologi untuk menciptakan ekosistem sehat dan tahan hama, pendekatan MTS seringkali bertentangan dengan kebiasaan petani.

“Tantangan kami selaku tim BPP adalah bagaimana mengubah perilaku dan pola pikir petani. Mereka masih percaya pada penggunaan pestisida kimia sintetis untuk hasil instan,” ucap Dyas.

Peran para petani milenial di tengah perbedaan tingkat kepercayaan petani konvensional terhadap konsep MTS yang ditawarkan sangatlah diharapkan. Eksistensi petani milenial dalam implementasi MTS merupakan faktor penentu keberhasilan sebuah transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern berkelanjutan.

Sistem pendekatan MTS merupakan program pemerintah pusat yang dikembangkan melalui pemerintah provinsi turut mengimplementasikan materi ‘Pengelolaan Hama Terpadu’ (PHT). Hal ini seiring dengan hama penyakit yang menjadi problema utama para petani dalam melakukan proses budidaya tanaman dari mulai tahap penyemaian hingga pemanenan.

“Pengetahuan tentang sikap dan keterampilan petani harus diubah dan dilakukan inovasi supaya tujuan ‘MTS’ tercapai di berbagai indikator yang ada,” kata Dyas.

Ia menambahkan MTS sifatnya berkelanjutan dan berkesinambungan dengan lintas sektor. Ketika ketahanan pangan terwujud, manfaatnya sangat banyak salah satunya berkurangnya kasus stunting.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....