Puskesmas Pagu Perkuat PHBS di Pesantren

  • 10 Mar 2026 20:09 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Puskesmas Pagu secara intensif melakukan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat di lingkungan pondok pesantren untuk mewujudkan kemandirian kesehatan bagi santri maupun pengasuh. Kepala Puskesmas Pagu, drg. R. Tariq Falakhuddin Cahya Kusuma, menyatakan bahwa penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di wilayahnya sudah berjalan dengan baik melalui kolaborasi aktif.

“Fokus utama program ini adalah mengajak seluruh warga pesantren untuk berperan serta menjaga kebersihan lingkungan asrama agar tidak menjadi pusat penyebaran penyakit,” katanya kepada RRI.

drg Tariq memaparkan, terdapat 13 indikator PHBS krusial yang harus diterapkan oleh para santri, mulai dari menjaga kebersihan perorangan, menggunakan air bersih dan sanitasi layak, hingga melakukan aktivitas fisik secara rutin. Selain itu, santri diwajibkan mencuci tangan pakai sabun, memberantas jentik nyamuk, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta dilarang merokok di lingkungan pesantren.

"Tiga belas indikator PHBS yang harus diterapkan, yaitu menjaga kebersihan perseorangan, menggunakan air bersih, menggunakan kamar mandi dan jamban yang sehat, termasuk sanitasi yang layak," ucapnya. Selain kebersihan fisik, lanjutnya, Puskesmas Pagu juga memberikan perhatian khusus pada kesehatan remaja putri (rematri) sebagai upaya pencegahan stunting jangka panjang. Intervensi dilakukan lebih dini melalui pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) seminggu sekali, yang dilakukan serentak setiap hari Jumat bagi seluruh santriwati.

Langkah ini penting untuk menekan kasus anemia, mengingat remaja putri adalah calon ibu di masa depan yang harus memiliki kondisi fisik prima. Pihak Puskesmas memastikan program TTD ini terpantau dengan baik meskipun tidak melakukan pendampingan langsung setiap hari Jumat di lokasi.

Melalui pengelola pondok, setiap santriwati tetap dipantau melalui mekanisme absensi rutin, bahkan bagi mereka yang sedang libur. "Ada pendampingan walaupun tidak setiap hari Jumat, memantau dari jauh melalui pengelola pondok, setiap anak di absen, bahkan bagi yang libur," ucap drg. Tariq.

Sebagai upaya keberlanjutan, Puskesmas Pagu telah melatih sebanyak 20 orang yang termasuk dalam ‘Santri Husada’ yang terdiri dari 10 santri pria dan 10 santri wanita untuk menjadi kader kesehatan. Para kader ini dipersiapkan sebagai role model, jembatan informasi, sekaligus penyuluh kesehatan di lingkungan pesantren masing-masing.

“Dengan adanya kader internal dan dukungan program tambahan seperti pemberian tablet cacingan, diharapkan derajat kesehatan santri meningkat sehingga daya tangkap dalam menuntut ilmu menjadi lebih maksimal,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....