Tradisi Salaman dan Cium Tangan Tanamkan Nilai Moral

  • 07 Mar 2026 18:30 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri – Perkembangan digitalisasi modern dan derasnya arus globalisasi tanpa disadari turut mengubah cara manusia melakukan interaksi. Hal ini menjadikan SD NU Insan Cendekia Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur secara konsisten memberikan edukasi salaman dan cium tangan sebagai tradisi dan budaya untuk menanamkan nilai moral.

Menurut Laili Nur Azizah, Kepala SD NU Insan Cendekia Ngadiluwih, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan budaya salaman dan cium tangan mengalami pergeseran. “Di kalangan anak muda, sudah jarang sekali yang melakukan salaman dan cium tangan kepada orang yang lebih tua,” kata Laili kepada RRI Kediri, Sabtu, 7 Maret 2026.

“Saya menyebutnya evolusi tradisi dan budaya salaman dengan cium tangan di era modern. Hal ini terlihat ketika silaturahmi idul fitri,” ujar Laili. “Kalau di desa, mungkin tradisi salaman dan cium tangan masih lestari hingga kini. Berbeda halnya dengan di kota-kota besar, anak muda enggan melakukan cium tangan ketika berjabat tangan dengan orang yang lebih tua.”

Laili menyampaikan bahwa kebiasaan berjabat dan mencium tangan guru di lingkungan sekolah merupakan wujud nyata pendidikan adab. “Ini bukan sebatas ritual, namun anak-anak sepatutnya menyadari bahwa dari tangan para guru terukir masa depan bangsa,” ucapnya.

Laili berharap melalui kebiasaan salaman dan cium tangan, peserta didik siap menerima ilmu secara ikhlas. “Saya yakin dengan habit rutin yang baik melalui salaman dengan mencium tangan guru, situasi di lingkungan sekolah akan terasa penuh hormat dan santun,” kata Laili. "Selebihnya, pembentukan karakter, nilai-nilai spiritual tinggi, dan nilai-nilai moral, akan dimiliki oleh anak-anak seiring dengan proses yang mereka jalani di sekolah."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....