Warga Manisrenggo Diajak Kelola Sampah dengan Sistem Aquaponik Galon Bekas
- 21 Feb 2026 16:41 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Warga Kelurahan Manisrenggo Kota Kediri diajak mengelola sampah plastik rumah tangga melalui sistem aquaponik berbasis galon bekas yang dikombinasikan dengan budidaya ikan lele dan tanaman kangkung.
Program ini tidak hanya menekan potensi penumpukan limbah galon sekali pakai, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat ketersediaan pangan keluarga di tengah keterbatasan lahan pekarangan.
Kegiatan tersebut digagas mahasiswa KKN-T Universitas Nusantara PGRI Kediri Kelompok 38 dengan pendekatan partisipatif. Sasaran utamanya adalah ibu rumah tangga dan pemuda sebagai pelaku utama pengelolaan sistem di tingkat rumah tangga.
Selain sosialisasi, warga mendapat pelatihan teknis mulai dari perakitan instalasi hingga pemeliharaan dan evaluasi hasil.Ketua KKN-T Kelompok 38 Kelurahan Manisrenggo, Ahmad Tawang Aswad, menegaskan bahwa persoalan sampah plastik di kawasan permukiman perlu dijawab dengan solusi aplikatif.
“Kami melihat galon bekas cukup banyak ditemukan di lingkungan warga. Jika tidak dimanfaatkan, ini berpotensi menumpuk dan menurunkan kualitas kebersihan. Karena itu, kami mengajak masyarakat mengubahnya menjadi media budidaya yang produktif,” ujar Ahmad, kepada RRI pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Ia menjelaskan, sistem aquaponik dipilih karena relatif hemat ruang dan dapat diterapkan di pekarangan sempit.
“Konsepnya sederhana. Air dalam galon digunakan untuk memelihara lele, kemudian limbah dari ikan dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman. Tanaman kangkung berfungsi menyaring air sebelum dialirkan kembali ke wadah ikan. Siklus ini membuat sistem lebih efisien,” jelasnya.
Ahmad menambahkan, pelatihan tidak berhenti pada tahap perakitan instalasi. Pihaknya juga melatih warga mulai dari cara melubangi dan menyusun galon, menebar benih lele, menanam kangkung, hingga mengatur jadwal pemberian pakan.
“Kami juga menekankan pentingnya menjaga kualitas air agar ikan tetap sehat. Dan sebelum pelatihan, kami melakukan pretest untuk mengetahui pemahaman awal warga. Setelah satu siklus pendampingan, kami lakukan posttest. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta,” kata Ahmad.
Ia menyebutkan, sebanyak 15 warga terlibat aktif dalam program ini dan bersama-sama membangun 10 unit percontohan aquaponik berbasis galon bekas.
“Harapannya, unit percontohan ini bisa direplikasi secara mandiri oleh warga lain. Kami ingin sistem ini terus berjalan meskipun masa KKN sudah selesai,” ucapnya.
Menurut Ahmad, pemilihan lele memiliki daya tahan yang baik terhadap perubahan kualitas air dan permintaannya stabil, “Sementara kangkung cepat tumbuh dan bisa dipanen dalam waktu relatif singkat. Kombinasi ini mendukung ketersediaan protein dan sayur segar di rumah,” jelasnya.
Ia juga menyoroti peluang ekonomi yang dapat berkembang dari sistem tersebut jika dikelola secara konsisten. Menurutnya, hasil panen bisa dimanfaatkan untuk konsumsi pribadi maupun untuk dijual. Meski demikian, Ahmad mengakui masih ada tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi perawatan.
“Sistem ini memerlukan kedisiplinan, terutama dalam pemberian pakan dan pengecekan kualitas air. Karena itu, kami mendorong adanya pembagian peran dan pencatatan logbook agar pengelolaan lebih tertata,” katanya, mengakhiri.
Melalui inovasi sederhana tersebut, pengelolaan sampah plastik di Kelurahan Manisrenggo tidak lagi berhenti pada tahap pengumpulan dan pembuangan. Galon bekas kini beralih fungsi menjadi sarana produksi pangan yang mendukung ketahanan keluarga sekaligus memperkuat kesadaran lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....