Pohon Sosis, Beracun Tapi Kaya Manfaat Ekologis

  • 31 Jan 2026 17:07 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri- Indonesia menyebutnya Pohon Sosis karena memiliki buah seperti sosis. Nama ilmiahnya Kugelia Africana, sejenis pohon yang termasuk dalam keluarga Bignoniaceae. Menurut akun GNFI, pohon sosis berasal dari daerah sabana di Afrika Sub-Sahara. Nama lainnya adalah "Cucumber Tree", dan genusnya Kigelia, berasal dari nama Mozambik untuk tanaman ini, "kigeli-keia".

Pohon sosis adalah pohon yang mudah dikenali karena bentuknya yang khas. Pohon ini dapat tumbuh hingga ketinggian 20 meter, batangnya pendek dan cenderung bengkok, dengan kulit kayu berwarna abu-abu kecoklatan yang halus pada saat usia muda dan menjadi bersisik seiring bertambahnya usia. Pohon sosis memiliki bunga besar, berbentuk seperti lonceng, dan berwarna merah tua atau merah tembaga. Bunga ini mekar pada malam hari dan mengeluarkan aroma tengik.

Buahnya adalah ciri paling unik dari pohon sosis. Berbentuk berry silindris yang sangat besar, bisa mencapai 30 hingga 100 cm dengan berat antara 5 hingga 10 kg. Kulit buahnya berwarna abu-abu kecoklatan dan keras. Daging buahnya berserat, berair, dan mengandung banyak biji. Buah pohon sosis akan menggantung di tangkai.

Namun sayang buah ini tidak dapat di makan manusia karena beracun. Buah ini dianggap dapat menyebabkan masalah pencernaan yang serius, seperti mual, muntah, dan diare jika dikonsumsi.

Buah dari pohon sosis yang tidak pecah ketika jatuh akan dimakan oleh hewan-hewan seperti babun, gajah, dan kuda nil. Pohon ini merupakan komponen kunci di ekosistem sabana. Bunganya menjadi sumber nektar bagi hewan seperti kelelawar dan serangga nokturnal lainnya.

Daunnya menjadi pakan bagi beberapa spesies ulat dan herbivora. Dengan tajuknya yang lebar, pohon ini juga menjadi tempat berteduh yang nyaman dan bersarang bagi berbagai jenis burung dan hewan.

Penelitian ilmiah modern juga mengungkap khasiat dari pohon sosis. Studi fitokimia telah mengidentifikasi sejumlah senyawa bioaktif dalam buah dan kulit kayunya, seperti naphthoquinones, iridoid, flavonoid, dan asam fenolat. Senyawa-senyawa ini memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antijamur, dan anti-inflamasi.

Beberapa penelitian in vitro dan pada hewan uji menunjukkan potensi ekstrak Kigelia yang berperan dalam menghambat pertumbuhan sel kanker dan melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....