​Tangkal Radikalisme, Kejati Jatim Edukasi Ribuan Juru Dakwah

  • 29 Jan 2026 21:49 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Nganjuk - Untuk menangkal radikalisme, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur mengedukasi ribuan Juru Dakwah.

"Upaya ini kami lakukan dengan membekali wawasan kebangsaan kepada para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah yang nantinya menjadi juru dakwah LDII," kata Kasi II Bidang Intelijen Kejati Jatim Dwi Setyadi, didampingi Analis Data dan Informasi Bidang Intelijen Abdullah, di Ponpes Al Ubaidah, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur pada Kamis, 29 Januari 2026.

Menurut Abdullah, pembekalan kebangsaan tersebut berisi penguatan moderasi beragama sebagai upaya menangkal paham radikalisme dan intoleransi di tengah masyarakat.

"Kegiatan itu dihadiri Kasi II Bidang Intelijen Kejati Jatim Dwi Setyadi, didampingi Analis Data dan Informasi Bidang Intelijen Abdullah, beserta jajaran," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Abdullah, menegaskan, santri memiliki peran strategis sebagai agen toleransi dan perekat persatuan bangsa di tengah keberagaman.

"Untuk menjalankan peran tersebut, santri ia ingatkan agar berpegang pada prinsip khoirun nas anfauhum linnas dalam kehidupan bermasyarakat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain," ujarnya.

Lebih lanjut, di hadapan 1.066 santri, Abdullah mengemukakan, radikalisme berakar dari sikap eksklusif yang menganggap diri paling benar.

"Dalam konteks itu, santri diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam merawat kebhinekaan dan memperkuat persatuan bangsa," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi, mengatakan, bahwa penguatan nilai kebangsaan menjadi prioritas utama dalam '8 bidang pengabdian LDII untuk bangsa' dan 'Kebangsaan menjadi yang pertama dan utama'

"Kita hidup di negara yang sangat majemuk, sehingga nilai-nilai kebangsaan harus terus dijaga," ucapnya.

Amrodji menyampaikan, DPW LDII Jawa Timur secara aktif mendorong seluruh pondok pesantren naungan LDII serta DPD LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur untuk memberikan edukasi kepada santri maupun warga LDII.

"Hal itu termasuk di masjid dan musola, terkait pentingnya menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama," katanya.

Ia menilai, moderasi beragama harus dimulai dari generasi muda yang memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. "Pemuda adalah agent of change. Kita berharap mereka mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik," katanya.

Adapun, Pengasuh Ponpes Al Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany, menyebutkan, Ponpes Al Ubaidah Kertosono merupakan pusat pelatihan dai dan daiyah sebelum diterjunkan ke berbagai daerah di Indonesia.

"Karena itu, kami membuka kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....