Mengenal Sejarah Nyepi Umat Hindu

  • 28 Mar 2025 13:00 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Umat Hindu akan merayakan Nyepi pada Sabtu, 29 Maret 2025. Umat Hindu merayakannya setiap tahun sesuai dengan penanggalan Kalender Tahun Baru Saka.Tahun baru tersebut jatuh pada hitungan Tilem Kesanga, yang merupakan hari di mana dewa-dewa melakukan penyucian diri.

Pada perayaan ini, seluruh umat Hindu akan melakukan meditasi dan fokus pada peribadatan kepada Sang Hyang Widhi dan meninggalkan aktivitas duniawi sementara. Di Indonesia, perayaan Nyepi ditetapkan sebagai libur nasional berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 3 tahun 1983.

Melansir dari laman resmi Kemenag, Jumat (28/03/2025), Nyepi adalah penyucian Bhuana Agung/makro cosmos/alam semesta dan penyucian Bhuana Alit/mikro cosmos/diri manusia. Adapun rangkaian upacara Nyepi meliputi, pertama, Upacara Melasti untuk menyucikan wilayah sumber mata air. Kedua, Upacara Tawur Agung Kesanga untuk menyucikan wilayah di dataran agar lingkungan alam kembali harmonis.

Ketiga, Catur Brata Penyepian berupa Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan, dan keempat, Dharma Santi, berupa kegiatan sosial untuk saling memaafkan dan menjalin hubungan harmonis antar sesama manusia.

Dalam sejarahnya, Hari Raya Nyepi berasal dari zaman India kuno. Pada masa itu banyak terjadi konflik-konflik sosial dan fisik berkepanjangan di antara suku-suku di India seperti suku Saka (Scythia), Yueh-ci (Tiongkok), Yavana (Yunani), Malava (India), dan Pahlava (Parthta). Konflik ini erat kaitannya dengan upaya penguasaan wilayah-wilayah lahan subur di India.

Konflik terjadi dalam kurun waktu sangat lama. Masa gencatan senjata juga muncul di tengah-tengah konflik panas antar suku tersebut. Gencatan senjata inilah yang menimbulkan akulturasi dan sinkretisme, yang berujung pada perdamaian. Perdamaian terjadi ketika Suku Saka mampu menaklukan suku-suku lain dan menduduki berbagai wilayah.

Bangsa Saka kemudian memulai tahun Saka pada 78 Masehi, dan menobatkan Chashtana sebagai raja. Sementara tahun pertama tahun Saka adalah Caitra, yang bertepatan antara bulan Maret hingga April.

Perjuangan bangsa Saka, menginspirasi Raja Kaniskha I (127-150) dari Dinasti Kushan, untuk mengadopsi sistem penanggalannya dan berperan besar dalam penggunaan tahun Saka secara luas. Tahun baru Saka inilah yang kemudian diperingati di seluruh negeri termasuk Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....