Urgensi Maaf dalam Tradisi Halal Bihalal

  • 19 Mar 2026 07:45 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri: Tradisi silaturahmi dan saling memaafkan secara massal telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Idul Fitri di Indonesia. Momentum ini dipandang sebagai upaya manusia untuk membersihkan sisa dosa antarsesama setelah sebulan penuh fokus memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah Ramadan.

Meski menjadi kebiasaan positif, terdapat esensi hukum yang sangat mendasar dalam proses pembersihan dosa sosial ini. Ustaz Akhid Nasrullah, M.Pd.I., Pengasuh PP Bustanul Arifin Kediri, menekankan bahwa meminta maaf adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim yang berbuat salah.

Jika kesalahan berkaitan dengan harta, maka harus dikembalikan, namun jika berkaitan dengan lisan atau perasaan, maka permohonan maaf secara langsung menjadi syarat gugurnya dosa. Hal ini menjadi pengingat agar setiap individu tidak meremehkan dampak tindakan mereka terhadap orang lain.

"Meminta maaf adalah kewajiban, namun bagi korban, memberikan maaf adalah sebuah hak yang tidak wajib dilakukan," ujar Ustaz Akhid Nasrullah dalam kajian Mutiara pagi, Kamis, 19 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa meskipun memaafkan adalah sunah yang mendatangkan kemuliaan dari Allah, hak tersebut tetap berada sepenuhnya di tangan individu yang disakiti. Ia melanjutkan bahwa konsekuensi dari tidak dimaafkannya sebuah kesalahan di dunia adalah persidangan di pengadilan akhirat.

Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi umat muslim untuk senantiasa menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain. “Ketakutan akan berkurangnya pahala kebaikan di akhirat akibat tuntutan orang lain seharusnya memicu sifat tawadhu dan rendah diri pada setiap insan,” ucapnya.

Ustaz Akhid mengingatkan masyarakat untuk menjadikan momen halal bihalal sebagai ajang yang tulus dalam memohon ampunan. Dengan kesadaran bahwa maaf adalah hak korban, setiap muslim diharapkan lebih berhati-hati dalam berinteraksi sosial.

Melalui sikap rajin meminta maaf dan menjaga perasaan sesama, diharapkan kebersihan diri pasca-Ramadan dapat terjaga secara utuh baik di hadapan Tuhan maupun manusia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....