Berburu Tanda Tangan Imam Tarawih Masih Menjadi Tradisi
- 06 Mar 2026 20:43 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Saling berburu tanda tangan imam salat tarawih ketika masih duduk di bangku SD masih menjadi budaya dan tradisi hingga saat ini. Seperti halnya yang nampak di Musala Nur Hidayah, Dusun Ngreco, Desa Rembang, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada Jum’at, 6 Maret 2026.
Moza (9), siswi kelas tiga SDN Rembang 1, meskipun menjadi satu-satunya anak perempuan yang mengantre di antara sejumlah anak laki-laki, ia nampak semangat berburu tanda tangan imam tarawih di Musala Nur Hidayah. “Hari ini isi ceramahnya tentang ‘Menjalani Puasa dengan Riang Gembira’. Alhamdulillah puasa dan tarawih tidak pernah bolong,” kata Moza.
Gadis bertubuh mungil ini turut bercerita bahwa wali kelas akan memeriksa dan menilai kelengkapan buku kegiatan ramadan setelah bulan puasa selesai nanti. “Kata guru di sekolah, kegiatan ini untuk melatih kejujuran dan melatih kita supaya rajin beribadah di masjid,” ujar Moza dengan nada polos kepada RRI Kediri, Jum’at malam.
Menurut Rudi Artopo, Guru SD NU Insan Cendekia Ngadiluwih, pihak sekolah membagikan buku kegiatan ramadan kepada siswa agar aktivitas ibadah puasa mereka ketika di rumah tetap termonitor. “Karena ini penerapan kurikulum lama yang masih diimplementasikan sampai sekarang, banyak yang merasa hal ini menjadi budaya dan tradisi,” ucap Rudi.
“Saya pun terasa seperti nostalgia masa kecil kalau melihat anak-anak tertib antri tanda tangan imam setelah salat tarawih selesai,” ujar Rudi kepada RRI Kediri. “Senang rasanya melihat anak-anak semangat ke masjid atau musala untuk beribadah tarawih. Tidak cuma itu, mereka bawa alat tulis untuk mencatat isi ceramah yang artinya mereka menyimak isi tausiyahnya."
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....