Muktamar ke-35, Presiden Soroti Peran NU dalam Menjaga Keutuhan Bangsa
- 27 Agt 2026 19:58 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang – Presiden Prabowo Subianto menyoroti peran strategis Nahdlatul Ulama dalam menjaga keutuhan, stabilitas, keamanan, dan perdamaian bangsa. Hal itu disampaikan saat membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis, 27 Agustus 2026.
Presiden Prabowo hadir bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam forum lima tahunan NU tersebut. Dalam sambutannya, Prabowo menilai NU memiliki akar sejarah yang kuat dalam perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Prabowo, semangat nasionalisme telah lama menjadi bagian dari perjuangan kaum religius. Ia mencontohkan lagu Syubbanul Wathan yang diciptakan KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai salah satu bukti kuat keterkaitan antara nilai keagamaan dan kecintaan terhadap tanah air.
“Bukti yang jelas adalah lagu Syubbanul Wathan yang sekarang menjadi lagunya Nahdlatul Ulama. Lagu ini bisa dikatakan adalah lagu patriotik, lagu nasionalis, lagu yang dibuat oleh kelompok religius, tapi semangatnya adalah semangat cinta tanah air dan semangat nasionalisme yang luar biasa,” ujar Prabowo.
Presiden kemudian menekankan pentingnya hubungan yang erat antara pemerintah dan ulama dalam menjaga kondisi bangsa. Menurutnya, sinergi tersebut diperlukan agar Indonesia dapat berkembang sekaligus tetap berada dalam situasi aman dan damai, “Yang disampaikan Gus Yahya itu sangat benar. Juga oleh Kiai Hasyim. Kalau bangsa ini mau bangkit dan mau aman, pemerintah umaroh harus selalu dekat dengan Nahdlatul Ulama dan juga Muhammadiyah,” katanya.
Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, KH Muhammad Hasib Wahab Hasbullah, turut menyampaikan doa agar Presiden Prabowo dapat menjalankan kepemimpinan nasional dengan baik hingga menyelesaikan masa jabatannya, “Nilai keislaman dan kecintaan terhadap negara tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan dan menjadi bagian dari perjalanan NU sejak masa para pendirinya,” jelasnya.
Keduanya menjadi bagian yang saling melengkapi dalam perjalanan NU sejak masa para pendiri. Ia menggambarkan keterikatan tersebut seperti dua sisi mata uang. Keislaman tidak harus menghilangkan nasionalisme.
Sementara itu, Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul melaporkan penyelenggaraan muktamar ke 35 kepada Presiden Prabowo. Kesiapan tersebut mencakup fasilitas persidangan, arena pembukaan, asrama peserta, hingga berbagai sarana pendukung, “Pertama adalah kesiapan fisik. Mulai dari arena pembukaan, ruang sidang, asrama putra, hingga berbagai sarana dan prasarana pendukung,” ujar Gus Ipul.
Selain fasilitas, panitia juga menyiapkan kebutuhan peserta selama muktamar, termasuk akomodasi, konsumsi, transportasi, dan kebutuhan logistik lainnya, “Kedua, kesiapan logistik. Mulai dari akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga seluruh kebutuhan peserta muktamar,” lanjutnya.
Pelaksanaan muktamar juga melibatkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. Panitia menyediakan sekitar 1.500 stan UMKM di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, “Pasar Muktamar yang berlangsung sejak tanggal 20 hingga 31 Agustus tahun 2026 ini juga dilengkapi dengan panggung budaya dan pasar malam, sehingga muktamar ini tidak hanya menjadi forum organisasi, tetapi ikut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,” kata Gus Ipul.
Untuk mendukung pergerakan peserta di kawasan muktamar, panitia juga mendapat dukungan 200 becak listrik, “Khusus untuk transportasi di dalam kawasan muktamar, kami juga mendapatkan dukungan 200 becak listrik yang akan membantu mobilitas para kiai dan peserta. Tentu becak-becak listrik ini merupakan bagian dari bantuan Bapak Presiden,” ujarnya.
Di samping itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam sambutannya menegaskan perlunya NU memperkuat kerja sama dengan pemerintah. Menurutnya, langkah tersebut tetap harus berjalan seiring dengan fungsi NU sebagai salah satu penyangga kehidupan bangsa.
Gus Yahya menyebut besarnya jumlah warga NU sebagai potensi sekaligus tanggung jawab organisasi. Ia memperkirakan warga NU mencapai lebih dari 120 juta orang berdasarkan jumlah penduduk muslim Indonesia, “Warga Nahdlatul Ulama di Indonesia ini jumlahnya kira-kira 57 persen dari seluruh penduduk muslim di Indonesia,” kata Gus Yahya.
Muktamar ke-35 NU berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Forum tersebut menjadi ruang bagi para utusan NU dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri untuk membahas keputusan strategis organisasi serta arah kepemimpinan PBNU periode mendatang.
Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang (Foto : RRI/Kusuma)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....