Seratus Penari Muda Asal Tulungagung Siap Tampilkan Jaranan Santherewe di Istana

  • 15 Agt 2026 09:07 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID. Kediri - Seratus penari muda asal Tulungagung dari Sanggar Tari Lestari Widodo Wiryatama akan tampil dalam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 di Istana Merdeka, Jakarta. Para penari muda ini akan menampilkan Jaranan Santherewe yang merupakan tarian khas Kabupaten Tulungagung. Selain itu, ada kolaborasi tarian dari daerah lain yang ikut mengiringi yaitu tari Topeng dari Malang, Gelipang dari Probolinggo, dan tarian khas Banyuwangi.

Dikutip dari akun resmi Prokopim Kabupaten Tulungagung, Sabtu, 15 Agustus 2026, para penari muda ini menjadi perwakilan delegasi tari mewakili Jawa Timur dan telah lolos kurasi pada 10 Agustus 2026 di Gor Lembu Peteng, Tulungagung. Menurut Plt Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, bahwa sudah saatnya Tulungagung berada di panggung kenegaraan.

"Yang dibawa bukan sekedar tarian. Mereka membawa nama Tulungagung dan Jawa Timur, serta kekayaan budaya daerah ke panggung kenegaraan yang akan disaksikan publik nasional hingga internasional. 100 penari,1 panggung besar. Luar biasa," ucap Baharudin.

Berdasarkan catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung, Jaranan Santherewe adalah bagian dari denyut nadi warga Tulungagung. Lahir pada tahun 1958, kesenian ini berkembang dari pertemuan seniman jaranan dan ludruk. Dari perpaduan itu muncul gerakan dinamis, penuh energi, dan sarat makna.

Dalam setiap pertunjukannya, jaranan santherewe menampilkan berbagai babak seperti jejer, kucingan, celengan, hingga barongan. Penari menggunakan properti kuda kepang dari anyaman bambu. Tarian mengandung filosofis mendalam karena sarat dengan dimensi spiritual yang diiringi oleh musik dan tari. Terlebih fenomena trance (kesurupan) yang menjadi bagian dari tradisi jaranan santherewe.

Fenomena trance pada tarian jaranan santherewe ibarat seseorang terkena santhe (sebangsa talas) dan rewe (rawe). Kondisi ini muncul karena pengaruh musik gamelan dan mantra dari sesepuh. Umumnya tarian ini mengnagkat kisah keprajuritan pasukan berkuda Raja Klana Sewandana dalam legenda Panji atau cerita perang melawan musuh berwujud barong.

Jaranan Santherewe saat ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, sebuah pengakuan atas nilai seni, identitas budaya, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bupati juga berharap para penari bisa menunjukkan yaang terbaik dan memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin.

"Jaga kesehatan, mental, kekompakan, dan manfaatkan kesempatan berharga ini sebaik mungkin," ujar Bupati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....