Jadah Ketan Hitam Menjadi Simbol Perekat Silaturahmi
- 10 Mei 2026 09:00 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Kuliner Legendaris Jadah Ketan Hitam
- Simbol Perekat Silaturahmi
RRI.CO.ID, Kediri – Makanan tradisional ‘jadah ketan hitam’ asal Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur masih banyak dijumpai di tengah menjamurnya beragam kuliner modern saat ini. Selain menggambarkan kekayaan kuliner nusantara, jadah ketan hitam dianggap sebagai simbol perekat silaturahmi dan merupakan bagian dari budaya dan tradisi perayaan momen penting.
Jadah ketan hitam bukan sekedar makanan biasa, melainkan media khusus yang digunakan oleh masyarakat Pasuruan dalam setiap acara kirim doa dan diyakini memiliki nilai luhur. Kudapan yang terbuat dari beras ketan hitam, ketan putih, dan parutan kelapa ini juga dipercaya memiliki sejumlah filosofi baik sebagai simbol kerukunan dan kedamaian masyarakat.
Menurut Umi Kulsum, warga asli Pasuruan yang kini tinggal di Kota Kediri, jadah merupakan makanan inti yang bisa dikombinasikan dengan makanan-makanan lain. “Kalau di Kediri, jadah langsung dikonsumsi tanpa tambahan makanan lain. Di Pasuruan, jadah dimakan dengan ketan hitam. Di Jogja beda lagi, jadah dimakan sama tempe bacem,” katanya, Minggu, 10 Mei 2026.
Menurut Umi, sapaan akrabnya, jadah yang memiliki rasa gurih dan bertekstur kenyal ini sering disajikan dalam acara-acara hajatan seperti resepsi pernikahan salah satunya. Bahan-bahan untuk membuat jadah juga cukup mudah diperoleh, seperti beras ketan putih, kelapa parut, garam, daun pandan, air panas, dan santan.
“Kenapa jadah dianggap simbol perekat silaturahmi antar warga? Selain teksturnya kenyal dan permukannya lengket, cara membuatnya juga butuh tenaga ekstra sehingga melibatkan kerjasama beberapa orang. Adonan yang masih panas harus ditumbuk berulang-ulang,” ujar Umi, sapaan akrab perempuan yang pindah dari Pasuruan ke Kediri pada tahun 1993 ini.
Jadah ketan hitam merepresentasikan nilai-nilai budaya seperti merekatkan persaudaraan, warna ketan hitam menggambarkan kedalaman spiritual dan misteri alam semesta, dan proses menumbuk jadah hingga kalis dan kenyal dimaknai sebagai bentuk kesabaran dan kekuatan menghadapi dinamika kehidupan. Bereda halnya dengan Pamela Damayanti, warga Kota Kediri yang lebih suka menikmati olahan kuliner legendaris jadah bakar dan jadah tempe.
“Karena saya asli Kediri dan lama tinggal di Jogja waktu masih kuliah dulu, saya lebih bisa menikmati kelezatan jadah original atau dibakar. Untuk tambahan makanan lain, saya suka jadah tempe,” ucapnya kepada RRI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....