Inovasi Produksi Minuman Sari Kedelai Higienis dan tanpa Ampas

  • 17 Mar 2026 05:15 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Gatot Siswanto, seorang warga di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri mencoba berinovasi di sektor pangan. Salah satunya, melalui produksi minuman sari kedelai yang higienis dan tanpa ampas.

"Saya coba menemukan teknik produksi minuman sari kedelai ini setelah dua bulan beproses. Dari berulang kali percobaan, akhirnya berhasil mendapat resep yang sesuai dan diminati pasar," kata Gatot Siswanto, seorang warga di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, pada Selasa, 17 Maret 2026.

Pria yang juga pemilik usaha tahu kuning (tahu Takwa) khas Kediri, GTT, mengatakan, upayanya ini dilakukan seiring masih banyak pelaku usaha minuman sari kedelai yang memasarkan produk dengan hasil minuman ada ampas. Bahkan, cenderung terlihat antara komposisi sari kedelai lebih banyak kandungan air sehingga nilai gizinya minim.

Dengan latar belakang itulah, pengusaha yang juga menjabat Kepala Desa Toyoresmi, di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri itu mengenalkan tips memproduksi minuman sari kedelai dengan nilai gizi tinggi. Selama ini, ucap Gatot, jika masyarakat cara pembuatan minuman sari kedelai di pasaran, hal ini akan membuat konsumen kurang nyaman. Namun, ia mencoba menghadirkan tahapan produksi lebih higienis.

"Selain itu, dari hasil minumannya bila dikocok dapat dinikmati sampai tetes terakhir, tanpa ada sisa sari kedelai apa pun (lebih lembut). Hal ini dapat terealisasi, karena saya menggunakan mesin penyaring berukuran 100 Mikro, dan dipadukan dengan SOP pakai air RO TDS 10-15," katanya.

Untuk memperluas pemasaran minuman sari kedelai yang terbilang baru ini, pihaknya mengandalkan gerai pusat oleh-oleh GTT miliknya di Desa Toyoresmi. Hal ini dilakukan dengan menaruh minuman sari kedelainya di show case, sehingga konsumen bisa menikmati dalam keadaan dingin dan segar.

Sampai sekarang, Gatot mengemukakan, minuman sari kedelai yang diproduksi bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan telah mampu terjual hingga 60 Liter atau setara 120 botol per hari. Angka ini dihasilkan dari pengolahan 6 Kilogram bahan baku kedelai yang dibantu oleh dua orang karyawannya.

Ke depan, Gatot meminta, pemerintah daerah setempat bisa memberikan bantuan fasilitas perizinan, mengingat sebagai UMKM kecil pihaknya masih memerlukan edukasi dan dukungan berbagai pihak demi memperluas jangkauan pasar. Selain itu, juga bertujuan untuk memperkenalkan minuman kesehatan yang mempunyai kadar gizi seimbang bagi tubuh, khususnya sangat cocok dikonsumsi saat puasa Ramadan.

"Hingga kini, produk kami ini telah dinikmati banyak konsumen di Kediri. Bahkan termasuk, mendapat pesanan untuk melengkapi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) anak-anak sekolah melalui ketersediaan sari kedelai berukuran 200 ml," katanya.

Terkait kualitas rasa, Romi, salah satu konsumen minuman sari kedelai di gerai GTT, mengaku, baru pertama kali merasakan minuman yang menyegarkan dan rasa kedelainya otentik. "Komposisi minuman ini pas, antara rasa gurih, manis, dan airnya tidak berlebihan. Minuman semacam ini juga cocok dinikmati untuk berbuka puasa pada bulan puasa Ramadan, seperti sekarang, baik disajikan dingin maupun hangat," katanya.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Ia berharap, usaha yang dijalani Gatot dapat dipelajari oleh warga di daerah lain, sehingga mampu berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....