Ma Lemut, Sebutan Malaria yang Dikenalkan Soekarno

  • 30 Agt 2026 10:41 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Sebelum istilah Malaria menjadi nama permanen penyakit yang diakibatkan oleh nyamuk Anopheles ini, Presiden Soekarno pernah mengubahnya menjadi Ma Lemut. Perubahan ini muncul setelah kasus Malaria meninggi di kawasan Kalasan, Yogyakarta. Menurut Good News From Indonesia, terdapat surat kabar Nasional edisi 13 November 1959, yang memuat judul "Brantaslah Ma Lemut Setjara Berholopis Kontool Baris, Istilah Malaria Supaja Diganti Ma Lemut".

Saat itu, pemerintah melakukan penyemprotan DDT (diklorodifeniltrikloroetana) secara merata dan membasmi jentik jentik nyamuk hingga akhirnya program ini menjadi program lanjutan yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Selain Presiden yang hadir, sejumlah pejabat tinggi juga ikut menyaksikan. Dalam pidatonya, Sukarno menggunakan istilah Ma Lemut untuk upaya pemberantasan penyakit Malaria.

Pemberantasan malaria sendiri sudah dilakukan sejak lama di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari vaksinasi hingga penyemprotan untuk membasmi nyamuk. Upaya penanganan Malaria pasca Perang Dunia II hingga dekade 1970-an dilakukan dengan menggunakan DDT. Langkah tersebut berhasil memberantas wabah Malaria di berbagai bagian dunia. Menariknya, pada tahun 1960-an, Pemerintah Republik Indonesia menerbitkan seri perangko Dunia Bersatu Memberantas Malaria bergambar nyamuk Malaria.

Seseorang yang terserang penyakit malaria akan mengalami demam tinggi, menggigil kedinginan, dan penyakit seperti flu. Adapuj jenis malaria yang dapat menyerang manusia, adalah Plasmodium falciparum, P. vivax, P. ovale, dan P. malariae. Selain itu, P. knowlesi, jenis malaria yang secara alami menginfeksi kera di Asia Tenggara, juga menginfeksi manusia sehingga menyebabkan malaria yang ditularkan dari hewan ke manusia. P. falciparum adalah jenis malaria yang menyebabkan infeksi paling parah dan jika tidak segera diobati, dapat menyebabkan kematian.

Mengutip dari laman resmi PDI Perjuangan, tahun 1950-an Indonesia menerima wabah penyakit malaria yang sangat mematikan. Namun sayang, ketika itu Indonesia kekurangan tenaga medis dan fasilitas kesehatan. Dampaknya, tak ada akurasi data kesehatan hingga pelacakan gejala penyakit malaria. Para birokrat yang berada di birokrasi kesehatan tidak memiliki kemampuan takstis menangani wabah tersebut, dan berujung pada banyaknya korban meninggal.

Saking seriusnya teror kesehatan tersebut, pemerintah membentuk perangkat negara yang khusus menangani malaria. Dinas Pembasmian Malaria diresmikan pada Tahun 1959. Pada 1964, atau lima tahun semenjak genderang perang melawan malaria digaungkan Presiden Sukarno, sebanyak 63 juta penduduk Indonesia telah mendapat perlindungan dari malaria.

Dinas Pembasmian Malaria berubah menjadi KOPEM (Komando Operasi Pembasmian Malaria). Pemberantasan malaria juga dilaksanakan berjangka panjang hingga 1970 dengan menggandeng Badan Kesehatan Dunia (WHO). Menurut sejarah, Sukarno pun pernah terjangkit penyakit ini dan sering kambuh hingga detik-detik pembacaan teks proklamasi kemerdekaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....