Dua Gerakan ‘Malas’ yang Disebut Bantu Stabilkan Tensi
- 20 Agt 2026 17:38 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - dr. Cecep Hermawan, AIFO-K melalui akun media sosialnya, @dokkcep, membagikan informasi mengenai dua gerakan sederhana yang disebut dapat membantu menjaga kesehatan pembuluh darah dan kestabilan tekanan darah. Gerakan tersebut adalah wall squat dan isometric handgrip atau latihan menggenggam.
Gerakan pertama adalah wall squat. Dalam latihan ini, tubuh bersandar pada dinding dengan posisi seperti duduk. Berdasarkan informasi yang dibagikan, posisi tersebut dapat ditahan selama dua menit, kemudian beristirahat dua menit dan diulang hingga empat kali. Latihan ini disebut dilakukan tiga kali dalam sepekan.
"Gerakan kedua adalah isometric handgrip, yakni meremas bola atau botol dengan tangan. Lengan disangga di atas meja, kemudian genggaman dilakukan dengan tenaga ringan, sekitar sepertiga kemampuan, selama dua menit. Setelah istirahat satu menit, latihan dilanjutkan pada tangan lainnya dan diulang hingga empat kali," ucapnya.
Selain latihan tersebut, menjaga tekanan darah tetap terkendali juga perlu dilakukan melalui pola hidup sehat. Salah satunya dengan mengurangi konsumsi garam dan makanan kemasan yang tinggi natrium. Asupan garam juga perlu diperhatikan agar tidak berlebihan.
Ia juga menganjurkan konsumsi sayur dan buah, termasuk sumber kalium seperti pisang dan bayam. "Kalium berperan dalam membantu tubuh mengatur keseimbangan natrium dan cairan, sehingga mendukung pengendalian tekanan darah," katanya.
dr. Cecep yang juga sebagai konten kreator kesehatan mengingatkan bahwa latihan isometrik bukan pengganti aktivitas fisik secara keseluruhan. Aktivitas kardio, seperti berjalan cepat, tetap penting untuk menjaga kebugaran dan kesehatan jantung. Pengelolaan stres serta tidur yang cukup sekitar 7–8 jam per hari juga menjadi bagian dari pola hidup sehat.
Namun, ia mengingatkan bila tekanan darah berulang kali berada di atas 140/90 mmHg meski sudah melakukan perubahan gaya hidup, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai. Informasi dari media sosial sebaiknya dipahami sebagai edukasi dan tidak menggantikan saran medis secara langsung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....