Vape Dianggap Lebih Aman, Benarkah? Ini Fakta Ilmiah di Balik Rokok Elektrik
- 06 Agt 2026 11:27 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Tren penggunaan rokok elektrik atau vape terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan anak muda. Banyak orang beralih dari rokok konvensional ke vape karena menganggap uap yang dihasilkan lebih bersih dan lebih aman bagi kesehatan. Namun, berbagai penelitian dan informasi resmi dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Vape merupakan perangkat elektronik yang bekerja dengan memanaskan cairan atau liquid yang umumnya mengandung nikotin, pelarut, serta berbagai zat perasa. Cairan tersebut kemudian berubah menjadi uap yang dihirup oleh pengguna. Meski tidak menghasilkan asap seperti rokok tembakau, uap vape tetap mengandung berbagai zat kimia yang berpotensi membahayakan tubuh.
Dari sudut pandang kesehatan, para ahli mengingatkan bahwa vape bukanlah produk tanpa risiko. Cairan vape diketahui dapat menghasilkan senyawa berbahaya seperti formaldehida, asetaldehida, dan diasetil ketika dipanaskan. Formaldehida merupakan zat yang bersifat karsinogenik atau dapat meningkatkan risiko kanker, sedangkan diasetil dikaitkan dengan bronkiolitis obliterans atau yang lebih dikenal sebagai popcorn lung, yakni penyakit paru-paru yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan permanen.
Penggunaan vape dalam jangka panjang juga berisiko menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan. Beberapa kasus menunjukkan kaitan antara penggunaan rokok elektrik dengan penyakit EVALI (E-cigarette or Vaping Use-Associated Lung Injury), pneumonia lipoid, hingga peradangan pada saluran napas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menghirup uap vape bukanlah aktivitas yang bebas dari dampak kesehatan.
Selain paru-paru, sistem kardiovaskular juga dapat terdampak. Kandungan nikotin dalam vape mampu meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, sekaligus memicu peradangan pada pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jantung, terutama jika penggunaan dilakukan secara terus-menerus.
Dari sisi perkembangan otak, penggunaan vape menjadi perhatian serius, khususnya pada remaja. Nikotin merupakan zat yang sangat adiktif dan dapat menyebabkan ketergantungan. Paparan nikotin pada usia muda diketahui dapat mengganggu perkembangan fungsi otak, memengaruhi daya ingat, konsentrasi, hingga kemampuan belajar. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa remaja yang mulai menggunakan vape memiliki peluang lebih besar untuk kemudian beralih menjadi perokok konvensional.
Tidak hanya itu, peredaran cairan vape ilegal juga menjadi ancaman tersendiri. Beberapa produk dilaporkan mengandung zat psikotropika atau narkotika seperti THC maupun etomidat yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan lebih serius. Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih waspada dalam memilih produk yang beredar di pasaran.
Melihat berbagai temuan tersebut, persepsi bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional perlu dipahami secara lebih kritis. Meski beberapa kandungan berbahaya pada vape mungkin lebih rendah dibandingkan rokok tembakau, bukan berarti penggunaannya bebas risiko.
Masyarakat, khususnya generasi muda, diimbau untuk tidak mudah terpengaruh oleh anggapan bahwa vape merupakan alternatif yang aman, karena hingga kini berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa rokok elektrik tetap dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....