Membedah Alasan Psikologis Fenomena Flexing di Media Sosial

  • 30 Jul 2026 21:37 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Fenomena memamerkan kekayaan, mobil mewah, barang berlabel ternama, hingga pencapaian pribadi di media sosial atau yang populer dengan istilah flexing kian marak terjadi. Kebiasaan ini sering kali memicu respons negatif dari masyarakat, tetapi dari sudut pandang psikologi dan sains, ada alasan mendasar di balik perilaku pamer tersebut.

Dokter umum sekaligus hipnoterapis klinis bersertifikat, dr. Yuliana, CHt®, menjelaskan bahwa flexing pada dasarnya bukanlah bentuk gangguan atau kelainan psikologis. Namun, bagi sebagian individu, tindakan memamerkan harta maupun gaya hidup secara terus-menerus dilakukan sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan emosional tertentu yang belum terpuaskan.

Dalam postingan tersebut (@dr.yuliana.cht) dijelaskan dari kacamata neuroscience, respons otak saat seseorang menerima pujian, perhatian, atau jumlah likes yang melimpah di media sosial adalah dengan melepaskan hormon dopamin. Pelepasan dopamin ini memberi sinyal ke otak bahwa perilaku tersebut berhasil, sehingga timbul dorongan kuat untuk mengulanginya dan menjadikan validasi orang lain layaknya sebuah apresiasi yang terus dicari.

dr. Yuliana memaparkan bahwa dorongan emosional tersebut umumnya berakar dari pengalaman masa kecil dan pengasuhan. Anak-anak cenderung belajar dari apa yang mereka lihat, sehingga jika orang tua kerap membanggakan status, kekuasaan, atau kemewahan, anak akan menyerap pemahaman bahwa nilai diri seseorang sangat ditentukan oleh hal-hal materiil tersebut.

Pola pengasuhan semacam itu berpotensi membentuk keyakinan bawah sadar atau core belief yang kurang sehat pada anak saat dewasa. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya baru merasa berharga apabila dikagumi orang lain, harus terlihat lebih unggul, serta tidak boleh kalah, sehingga terus mengejar pengakuan eksternal untuk mengisi kekosongan emosionalnya.

Kendati demikian, dr. Yuliana menegaskan tidak semua orang yang suka menunjukkan pencapaian di media sosial memiliki luka batin atau kebutuhan akan validasi berlebih. Sebagian individu murni ingin membagikan hasil kerja keras, memberikan inspirasi kepada sesama, atau membangun personal branding untuk kebutuhan profesional, di mana hal yang membedakannya adalah motivasi mendasar di balik tindakan tersebut.

Guna mencegah anak tumbuh dengan ketergantungan pada pengakuan luar, peran orang tua dalam membentuk persepsi nilai diri menjadi sangat krusial. Orang tua diimbau tidak membuat anak merasa baru berharga hanya saat ia berhasil meraih prestasi, mendapat pujian, atau memiliki benda-benda tertentu.

Langkah terbaik adalah mendidik anak agar memiliki keyakinan kokoh bahwa dirinya tetap berharga tanpa harus membuktikan apa pun kepada lingkungan sekitar. Anak yang tumbuh dengan rasa percaya diri dan penerimaan yang utuh tidak akan merasa perlu mengejar validasi serta pengakuan tiada henti dari dunia luar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....