Musim Kemarau, Kasus ISPA di Pare Meningkat hingga 80 Persen
- 02 Jul 2026 10:54 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Musim kemarau yang disertai cuaca panas, debu, dan meningkatnya paparan asap pembakaran sampah mulai berdampak pada kesehatan masyarakat di Kabupaten Kediri. Dalam beberapa pekan terakhir, UPTD Puskesmas Pare mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai sekitar 80 persen dari total kunjungan pasien, disusul meningkatnya kasus cacar air (varisela) dan diare.
Dokter Umum Puskesmas Pare, dr. Raras Olivia Cindy, mengatakan mayoritas pasien yang datang mengeluhkan gejala ISPA seperti batuk, pilek, demam tinggi, hingga sesak napas. Menurutnya, kondisi udara yang kering, banyaknya debu, serta kebiasaan membakar sampah di lingkungan permukiman menjadi faktor yang memperbesar risiko gangguan saluran pernapasan.
"Beberapa minggu terakhir pasien ISPA memang 80 persen mendominasi di Puskesmas Pare. Cuaca sangat panas, paparan debu cukup tinggi, ditambah masih banyak masyarakat yang membakar sampah di lingkungan sekitar. Kondisi itu membuat risiko gangguan saluran pernapasan semakin besar," ujarnya, Kamis, 2 Juli 2026.
Ia menjelaskan, keluhan kasus ISPA ini tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Namun, anak-anak lebih rentan mengalami komplikasi karena daya tahan tubuh mereka belum tidak seperti orang dewasa. “Risikonya akan semakin meningkat dan menyebabkan anak mengalami pneumonia. Terlebih lagi kalau misal di lingkungan terdekatnya masih terpapar asap rokok,” jelasnya.
Selain ISPA, Puskesmas Pare juga mencatat peningkatan kasus cacar air atau varisela, terutama pada anak-anak yang tinggal di lingkungan pondok pesantren. Menurut dr. Raras, penularan penyakit tersebut berlangsung sangat cepat karena para santri tinggal dalam satu ruangan dengan intensitas kontak yang tinggi.

“Kalau kata orang Jawa, ini adalah penyakit cangkrangen. Untuk gejalanya biasanya diawali demam tinggi, kemudian muncul bintik-bintik berisi cairan air yang berawal dari wajah atau belakang telinga lalu menyebar ke sekujur tubuh. Anak juga biasanya mengalami lemas dan nafsu makan menurun," katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak lagi menggunakan cara tradisional seperti menyemburkan kunyahan jagung ke lepuhan cacar air. “Sebenarnya tindakan tersebut tidak perlu dilakukan. Karena itu malah justru berisiko menimbulkan infeksi sehingga dapat menyebabkan munculnya nanah dan memperparah kondisi pasien,” ujarnya.
Di sisi lain, kasus diare juga masih ditemukan, terutama pada anak-anak. Kondisi tersebut umumnya dipicu kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan atau mengonsumsi jajanan yang kurang higienis dan telah terpapar debu.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, kemudian juga menghindari paparan asap rokok maupun tidak melakukan pembakaran sampah di lingkungan rumah, serta menerapkan PHBS,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....