Memompa ASI, Pilihan Penting Ibu Pekerja
- 29 Jun 2026 14:00 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri- Memompa ASI adalah pilihan penting ibu pekerja. Terlebih ibu yang tidak bisa setiap saat menyusui secara langsung. Air Susu Ibu (ASI) adalah asupan penting dan utama bagi bayi, terutama pada usia 0-6 bulan. ASI yang kaya nutrisi menjadi sumber makanan paling ideal sekaligus menjaga imunitas tubuh bayi. Kegiatan pumping ASI bagi ibu bekerja saat ini menjadi hal lumrah terlebih didukung oleh keberadaan ruang laktasi yang ada di kantor dan berbagai fasilitas umum.
Irene Wahyuni, pekerja swasta Kediri, kepada RRI, Senin, 29 Juni 2026, mengatakan sebagai ibu pekerja, aktivitas menyiapkan asi melalui pumping, dan memberikan asi secara eksklusif menjadi kegiatan yang rutin ia lakukan disela-sela aktivitasnya bekerja. Baginya, meski meninggal anak untuk bekerja, bukan berarti meninggalkan tanggungjawab sebagai ibu untuk memberikan yang terbaik bagi si buah hati.
"Saya ibu pekerja, saya pumping ASI setiap saat untuk kebutuhan anak. Kebetulan anak masih usia 4 bulan, sehingga asupan ASI masih saya utamakan. Bekerja bagi saya bukan berarti meninggalkam tanggungjawab saya dalam memberikan asi eksklusif. Meski lelah tapi ibu pekerja tahu yang terbaik untuk anaknya," kata Irene.
Menurutnya, memompa asi juga sekaligus merangsang produksi ASI supaya tidak berhenti dan mencegah mastitis yaitu peradangan pada jaringan payudara. Kondisi ini umum terjadi dan sering di alami ibu menyusui. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri atau sumbatan saluran ASI yang membuat payudara membengkak, terasa panas, kemerahan, serta nyeri. Untuk itulah, pumping asi sangat disarankan oleh Ikatan Dokter Anak.
"Saya biasanya pumping tiap 2 atau 3 jam sekali. Durasinya bisa 10 menitan hingga 15 menit sekaligus untuk pengosongan payudara sesuai aturan IDAI. Setelah itu akan saya simpan di wadah khusus asi di dalam cooler bag. Jika asi sudah mulai seret, biasanya juga disarankan untuk pijat laktasi dan mengonsumsi makanan kaya nutrisi supaya suplay dan nutrisi asi tetap terjaga," ucap Irene.
Ditambahkannya, ASI juga tidak bisa bertahan lama dalam suhu ruang atau cooler bag. ASI akan bertahan selama 4 jam pada suhu ruang dan 24 jam jika disimpan di cooler bag. Sementara dikutip dari jurnal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, daya tahan ASI yang disimpan di kulkas akan bertahan selama 4 hari di suhu 4°C, dan 6-12 bulan di freezer dengan suhu -18°C. Namun Jika suhu menyentuh -20°C ASI bisa bertahan 3-6 bulan, sedangkan di refrigerator 2-8°C hanya 3 hari. ASI beku yang dicairkan tahan 2 jam di suhu ruang dan 24 jam di kulkas.
"Kami sebagai ibu bekerja sangat bersyukur karena kami dilindungi oleh Undang-Undang yang mengatur penyediaan fasilitas laktasi atau ruang menyusui bagi ibu dan anak. Di mana pun dan kapan pun tidak perlu khawatir kalau sudah muncul alarm pumping. Tubuh akan menunjukkan tanda-tandanya ketika ASI siap diperah kembali," ujarnya.
Pumping mendukung ibu bekerja tetap bisa menyusui, yang dikaitkan dengan penurunan risiko depresi pascamelahirkan. Secara psikologis, menyusui juga memperkuat ikatan emosional dan naluri keibuan. Melalui laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dijelaskan bahwa komposisi ASI bisa berubah secara alami mengikuti tahap tumbuh kembang bayi, meliputi air (88%), makronutrien (karbohidrat, protein, lemak), mikronutrien (vitamin & mineral), serta zat kekebalan tubuh.
Bagi Irene, dengan adanya perencanaan, fasilitas, dan dukungan kantor hingga orang-orang sekitar termasuk keluarga, ibu pekerja tetap bisa menyusui tanpa harus memilih antara karir dan ASI. Regulasi yang inklusif dan perusahaan yang menganggap menyusui itu ruang bebas penting, membuat loyalitas karyawan juga semakin naik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....