Menguap, Bukan Sekedar Tanda Mengantuk
- 29 Jun 2026 11:25 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri- Menguap dengan membuka mulut lebar-lebar ternyata bukan sekedar tanda mengantuk. Refleks dengn gerakan rahang terbuka lebar dan tarikan nafas dalam ini muncul sebagai bentuk komunikasi organ tubuh lain yang ternyata juga ikut bekerja. Dialah otak manusia. Sinkronisasi yang muncul ketika mulut terbuka membuat otak juga ikut waspada.
Dikutip dari Smitsonian Magazine, terdapat teori yang disebut thermoregulatory hypothesis. Terori ini menjelaskan bahwa saat seseorang menguap, udara dingin masuk lewat mulut dan hidung, memperlebar dinding sinus, dan memompa darah lebih banyak ke tengkorak. Darah yang lebih dingin ini membantu menurunkan suhu otak yang sedang "panas" karena aktivitas tinggi.
Studi dari National Institute of Health, juga menyebut bahwa menguap bisa membantu meningkatkan kewaspadaan lewat pendinginan otak. Napas dalam saat menguap juga mendorong darah dan cairan tulang belakang turun dari otak. Efeknya adalah detak jantung naik dan otak masuk ke "mode aktif" lagi. Karena itu kita sering menguap sebelum tidur, sesudah bangun, atau saat butuh fokus mendadak seperti sebelum olahraga ekstrem.
Seperti yang diungkapkan National Geographic, saat mulut seseorang terbuka, dinding sinus melebar dan berkontraksi. Hal Ini akan memompa udara masuk ke otak dan membuat temperaturnya lebih rendah. Oleh karena itu, saat udara sedang dingin, seseorang lebih sering melakuakn aktivitas menguap. Di sisi lain, Science Direct menerangkan, tingkat kebosanan pada seseorang, stres, demam, hingga efek obat juga memicu refleks menguap. Secara psikologis, menguap saat bosan bisa jadi tanda otak beralih dari kesiagaan tinggi ke rendah.
Lantas apakah betul menguap bisa menular ? Jawabannya adalah ya. Terdapat fenomena contagious yawning dikaitkan dengan mirror neurons dan empati. Studi Baylor University menyebut orang yang mudah tertular menguap cenderung punya empati dan ikatan sosial lebih kuat.
Robert Provine, seorang psikolog dan ahli neurosains University of Maryland, meneliti bahwa hal ini bukan reaksi yang aneh karena sebenarnya sebagian besar perilaku manusia memang menular, seperti tertawa. Menguap menjadi fenomena sosial dibanding fenomena psikologis atau biologis. Jadi, meski tidak mengantuk, kita tetap bisa menguap.
Kapan harus waspada? Menguap 5-10 kali sehari masih normal. Tapi jika berlebihan tanpa ngantuk, bisa jadi tanda anemia, sleep apnea, gangguan tiroid, stres kronis, hingga masalah saraf seperti stroke atau tumor otak. Menguap juga dipengaruhi neurotransmitter dopamin dan serotonin di hipotalamus. Jadi, buka mulut saat menguap itu cara tubuh "reset" otak, atur suhu, dan menjaga kewaspadaan. Bukan sekadar tanda malas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....