Dermatitis Atopik pada Bayi, Jangan Sepelekan

  • 18 Jun 2026 20:25 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri- Dermatitis Atopik adalah jenis penyakit kulit berupa peradangan kulit kronis yang menimbulkan bercak merah, kasar, bersisik, dan rasa gatal. Istilah lain menyebutnya sebagai eksim.

Kondisi kulit ini biasa menyerang bayi karena memiliki kulit yang sangat sensitif. Menurut laman Siloam Hospital, dermatitis atopik tidak menular. Penyakit kulit ini dapat terjadi karena faktor genetik, kulit kering, atau alergi.

Dermatitis atopik tidak boleh disepelekan karena dapat merusak jaringan kulit dan menggangu aktivitas harian. Terlebih penyakit ini bersifat kambuhan atau dapat muncul kembali apabila terdapat faktor pemicunya. Biasanya penyakit ini muncul di pipi atau seputar wajah, kulit kepala, dan lipatan-lipatan seperti siku atau lutut.

Gejala dermatitis atopik juga beragam. Mulai dari gatal hebat di malam hari, kulit kemerahan, keunguan, hinga kecoklatan, kulit kering pecah-pecah, bengkak, dan dapat muncul benjolan yang mengeluarkan cairan. Gejala lain juga bisa memicu deman khususnya pada bayi atau anak-anak yang memiliki imunitas tidak stabil. Anak dengan dermatitis atopik juga seringkali disertai penyakit asma ataupun rinitis.

Berdasarkan kondisi peradangan, dermatitis atopik dibagi menjadi 3 meliputi tahap akut yaitu tahapan ketika eksim sedang kambuh. Meradang hingga mengalami gatal luar biasa. Kedua adalah subakut, yaitu transisi menuju pemulihan. Kemerahan mereda, namun kulit mulai bersisik, kering hingga timbul keropeng. Ketiga adalah kronis, tahapan jangka panjang akibat siklus garukan berulang. Kulit menebal, garis lipatan muncul sangat jelas, dan terkadang kulit mengalami perubahan warna menjadi lebih gelap atau lebih terang.

Perawatan dermatitis atopik khususnya pada bayi adalah rutin memberikan pelembab terutama bagian kulit sensitif atau memandikan dengan air hangat dan gunakan pakain yang lembut dan menyerap keringat.

Hindarkan si kecil untuk menggaruk bagian yang mengalami radang atau gatal. Gunting kuku secara rutin sehingga tidak memicu iritasi pada bagian kulit yang memerah. Lakukan pengobatan berdasarkan resep dokter apabila dibutuhkan segera.

American Academy of Dermatology, juga menekankan bahwa perawatan secara klinis dapat dilakukan apabila gejala tidak kunjung menurun atau mengalami komplikasi yang serius pada kulit.

Sementara itu, hasil penelitian menyebut pemberian ASI membantu anak dengan resiko eksim atau anak yang memiliki alergi menjadi solusi tepat. ASI dapat memberikan perlindungan ekstra. Ibu menyusui juga diimbau menghindari resiko pemicu dermatitis seperti kacanga-kacangan, telur atau ikan laut.

Untuk diketahui, dermatitik atopik terbagi menjadi beberapa fase, yang salah satunya sering menyerang bayi disebut fase infatil, fase ketika anak berusia 2 bulan hingga 2 tahun. Pada fase ini pemicu terbesarnya adalah susu sapi.

IDAI menyarankan pemberian susu formula alternatif, seperti susu formula hidrolisat ekstensif dengan komponen protein yang lebih kecil, susu dengan hidrolisat parsial, susu formula asam amino, atau susu formula soya dari kedelai untuk bayi di atas usia 6 bulan.

Pemberian susu alternatif untuk mencukupi gizi, dan tidak ada transfer antibodi atau manfaat lain terhadap imunitas anak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....