Mengenal Slow Parenting: Tren Pola Asuh Anak yang Sehat di 2026

  • 30 Mei 2026 08:32 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Tuntutan zaman modern sering kali membuat para orang tua terjebak dalam perlombaan akademik dan aktivitas yang padat untuk anak-anak mereka. Berdasarkan data riil pada tahun 2026 ini, tercatat sebanyak 78 persen orang tua merasa selalu terburu-buru dalam mendidik anak, yang berdampak pada 65 persen anak mengalami kelebihan jadwal kegiatan (overscheduled).

"Kondisi ini memicu fenomena mengkhawatirkan di mana 82 persen anak mengaku merasa sangat tertekan dengan target tinggi yang ditetapkan oleh orang tua mereka," kata dr. Harys Maulan, Dokter Tumbuh Kembang Anak.

Melihat fenomena ini, dr. Harys mengenalkan sebuah metode pendekatan pola asuh alternatif yang kini tengah menjadi tren, yaitu slow parenting. Menurutnya, esensi utama dari pengasuhan ini adalah menggeser fokus orang tua dari yang semula mengejar kecepatan dan hasil instan, menjadi lebih mementingkan kualitas kehadiran nyata di setiap fase perkembangan buah hati.

"Filosofi utama dari slow parenting ini bersandar pada tiga pilar penting, yaitu hadir secara penuh, sabar dalam menikmati proses, serta membiarkan tumbuh kembang anak berjalan melalui proses yang alami. Kita harus ingat bahwa anak itu sebetulnya butuh untuk dimengerti, bukan dipaksa menuruti ego kita. Orang tua modern harus mulai meredam ambisi yang berlebihan agar mental anak tidak lelah," ujar dr. Harys dalam unggahan edukasi digitalnya (@dr.harysmaulana).

Lebih lanjut, dr. Harys membagikan lima langkah praktis yang sangat mudah diterapkan oleh para orang tua di rumah untuk memulai metode ini. Langkah pertama adalah dengan mulai berani mengurangi jadwal les atau kursus anak yang terlalu berlebihan.

Langkah kedua yang tidak kalah krusial di era digital ini adalah meluangkan waktu khusus secara konsisten untuk berinteraksi bersama anak tanpa adanya gangguan gawai atau gadget. "Tiga langkah berikutnya berfokus pada pendekatan komunikasi spiritual dan emosional antara orang tua dan anak. Orang tua diminta untuk membiasakan diri mendengarkan keluh kesah anak secara tulus tanpa langsung menghakimi, serta selalu menghargai setiap proses usaha yang ditunjukkan anak bukan hanya melihat hasil akhirnya saja," katanya.

Terakhir, orang tua diimbau untuk memberikan ruang dan waktu yang cukup bagi anak agar mereka bisa bebas bermimpi dan bermain secara lepas. Dokter Harys juga memaparkan bahwa penerapan slow parenting yang konsisten terbukti membawa segudang manfaat positif bagi masa depan anak.

Melalui ruang gerak yang lebih fleksibel, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih bahagia serta memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Selain itu, ikatan emosional (bonding) antara orang tua dan anak akan terjalin jauh lebih kuat karena didasari oleh rasa saling memahami.

"Manfaat jangka panjang lainnya adalah kreativitas serta imajinasi anak dapat berkembang secara lebih optimal karena mereka tidak dikejar-kejar target waktu. Yang paling penting dari semuanya, kesehatan mental (mental health) anak akan jauh lebih sehat dan stabil hingga mereka dewasa nanti. Mari kita berikan hak anak untuk menikmati masa kecilnya dengan bahagia dan sesuai dengan porsinya," ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....