Waspada Self-Diagnosis, Salah Obat Bisa Fatal Bagi Pasien

  • 15 Apr 2026 09:48 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Maraknya tren masyarakat mendiagnosis penyakit secara mandiri melalui internet atau self-diagnosis menjadi perhatian serius bagi praktisi kesehatan. Dr. Zainal Andy Saputra, Sp.KKLP., M.H., Wakil rektor 4 Universitas Strada Indonesia mengatakan bahwa kecepatan informasi saat ini sering kali disalahartikan oleh masyarakat sebagai alat diagnosis, padahal seharusnya informasi kesehatan di internet hanya digunakan sebagai langkah pencegahan dan edukasi gaya hidup.

Dr. Zainal menekankan bahwa banyak pasien yang akhirnya membeli obat keras tanpa resep dokter hanya berdasarkan informasi yang ditemukan di mesin pencarian. Hal ini tidak hanya membahayakan fisik, tetapi juga memicu keterlambatan penanganan medis yang seharusnya dilakukan lebih cepat oleh tenaga profesional.

“Dampak paling fatal dari self-diagnosis adalah munculnya risiko salah pengobatan akibat salah diagnosis di awal,” tuturnya.

Selain masalah fisik, dokter yang juga pakar hukum kesehatan ini menyoroti dampak psikologis berupa overthinking atau kecemasan berlebih yang disebut cyberchondria. Kondisi ini muncul ketika gejala ringan seperti pusing atau lemas dikaitkan secara sepihak dengan penyakit berat setelah membaca artikel di internet. Kecemasan ini justru dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan karena tekanan mental yang timbul.

Untuk menghindari misinformasi, Ia menyarankan masyarakat agar lebih teliti dalam memilah sumber informasi. Masyarakat diminta memeriksa apakah akun penyebar info tersebut merupakan nakes resmi atau akun yang hanya bertujuan untuk berjualan produk.

“Referensi kesehatan yang valid harus dicari dari berbagai pintu informasi yang kompeten agar tidak terjebak pada konten yang hanya mengejar jumlah klik atau engagement. Jangan mudah percaya meskipun dari pembuat konten yang terkenal sekalipun, karena bukan di bidang mereka,” ucapnya dalam dialog bersama RRI, Rabu, 15 April 2026.

Ia memaparkan sebagai solusi, peran dokter keluarga dan fasilitas kesehatan tingkat pertama sangat krusial dalam memberikan pengobatan secara holistik. Pengobatan ini tidak hanya berfokus pada gejala fisik, tetapi juga mencakup aspek keluarga, ekonomi, hingga budaya pasien. Dengan komunikasi yang berkesinambungan, dokter diharapkan mampu meredam kecemasan pasien yang terlanjur terpapar informasi menakutkan dari dunia maya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....