Tekan Kematian Benih, UB Kediri Uji Vaksin Feed-Based Lele Skala Kolam

  • 30 Sep 2026 18:35 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Pengembangan vaksin berbasis pakan (feed-based vaccine) untuk benih ikan lele garapan Prodi Akuakultur PSDKU Universitas Brawijaya Kampus Kediri memasuki tahap baru
  • Program ini diharapkan menghasilkan teknologi vaksin feed-based yang teruji, terjangkau, dan siap diadopsi luas

RRI.CO.ID, Kediri - Pengembangan vaksin berbasis pakan (feed-based vaccine) untuk benih ikan lele garapan Prodi Akuakultur PSDKU Universitas Brawijaya Kampus Kediri memasuki tahap baru. Tim peneliti melaksanakan penerapan skalabilitas purwarupa vaksin di unit-unit pembenihan lele milik mitra di Kabupaten Kediri.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari tahap perakitan dan pengujian fungsionalitas dasar purwarupa yang dimulai di UPT Perikanan Budidaya Air Tawar (PBAT) Pare. Riset ini berlangsung dalam kerangka BESTARI Saintek yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama LPDP.

Menurut Ketua program riset, Renanda Baghaz Dzulhamdhani Surya Putra, jika tahap sebelumnya fokus membuktikan purwarupa bekerja, yakni antigen tetap utuh di dalam pakan, pakan diterima benih, dan respons imun terbentuk, maka tahap ini menguji apakah purwarupa tetap bekerja pada skala dan kondisi kerja pembenih sebenarnya.

"Di laboratorium banyak variabel dapat dikendalikan. Namun di kolam pembenih, purwarupa harus berhadapan dengan padat tebar tinggi, fluktuasi kualitas air, cuaca, keterbatasan penyimpanan pakan, serta ritme kerja harian yang tidak selalu ideal," katanya, Rabu, 30 September 2026.

Ia menyebutkan, penerapan skalabilitas dilakukan di unit pembenihan mitra dengan karakter berbeda, mulai dari kolam terbuka dengan naungan jaring peneduh hingga kolam terpal beratap dengan bak tandon.

"Pemilihan tipologi berbeda ini disengaja untuk melihat kinerja purwarupa di berbagai praktik pembenihan di Kediri," katanya.

Pada setiap lokasi, tim bersama pemilik unit menyiapkan pakan bervaksin, menyesuaikan takaran dan jadwal dengan pola pakan yang sudah berjalan, serta menetapkan kolam pembanding sebagai kontrol. Penerapan dirancang agar tidak mengubah alur kerja pembenih secara drastis.

Selama penerapan, jelasnya, tim dan mitra mencatat parameter kunci seperti daya terima pakan, stabilitas penyimpanan, angka kematian harian, pertumbuhan dan keseragaman benih, respons imun melalui sampling berkala, serta kepraktisan dan biaya tambahan di sisi pembenih.

Renanda mengatakan, sesuai pendekatan co-creation living lab, pembenih mitra tidak hanya menyediakan kolam, tetapi terlibat langsung dalam pemberian pakan, pencatatan harian, dan umpan balik kendala teknis. Mahasiswa Prodi Akuakultur PSDKU UB Kediri juga dilibatkan untuk pendampingan dan pengumpulan data.

"Tahap ini adalah ujian yang sebenarnya bagi purwarupa kami. Di kolam pembenih, vaksin harus bekerja pada padat tebar tinggi, dengan air, cuaca, dan cara kerja yang apa adanya. Kalau di kondisi seperti itu kematian benih bisa ditekan dan penerapannya tetap praktis, barulah teknologi ini layak didorong ke skala yang lebih luas," ujar Renanda.

Sebelumnya, Kepala UPT PBAT Pare, Novi menyatakan, dukungan penuh terhadap kegiatan ini guna menghasilkan benih ikan lele unggul tahan penyakit.

"Hal ini bisa diterapkan guna menghasilkan benih ikan lele yang unggul, dan tentunya tahan penyakit," kata Novi.

Sementara Sekretaris Asosiasi Pengusaha Catfish Kediri, Mutif berharap, hasil riset ini mampu menurunkan angka kematian benih yang menjadi persoalan pembenih.

"Tim selanjutnya akan menganalisis hasil pemantauan untuk penyempurnaan formulasi dan protokol aplikasi, penyusunan panduan penerapan, serta perluasan uji ke unit pembenihan lain yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Catfish Kediri dengan pendampingan Dinas Perikanan Kabupaten Kediri," kata Mutif.

Melalui tahapan tersebut, program ini diharapkan menghasilkan teknologi vaksin feed-based yang teruji, terjangkau, dan siap diadopsi luas, sehingga berkontribusi pada peningkatan mutu benih lele Kediri dan penerapan budidaya yang lebih rendah antibiotik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....