Budidaya Selada Hidroponik, Mantan Guru di Kediri Raup Rp30 Juta per Bulan

  • 18 Sep 2026 19:49 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Budidaya Selada Hidroponik, Mantan Guru di Kediri Raup Rp30 Juta per Bulan
  • Sistem hidroponik dipilih karena memungkinkan produksi sayuran dilakukan secara lebih terencana dengan target panen setiap pekan

RRI.CO.ID, Kediri - Siapa sangka lahan sempit 10 x 20 meter di Pare, Kabupaten Kediri bisa menghasilkan hingga Rp30 juta per bulan. Adimas Ketut Nalendra (36), mantan guru multimedia yang kini bekerja sebagai pegawai Kementerian Pendidikan wilayah Blitar, membuktikannya lewat budidaya selada keriting hidroponik yang ia tekuni secara otodidak.

Di Dusun Tegalsari, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Dimas mengelola lahan hidroponik miliknya. Awalnya lahan tersebut digunakan untuk budidaya melon, namun seiring berkembangnya permintaan pasar, ia mulai membagi produksinya antara buah dan sayuran.

Perubahan itu tidak terjadi tanpa alasan. Hal ini karena sebelum menggunakan sistem hidroponik, lahan tersebut sempat ditanami berbagai tanaman seperti jagung, kacang tanah, sawi dan sayuran lainnya. "Hasilnya masih belum bisa untuk menghidupi pegawainya," kata Dimas, Jumat, 18 September 2026.

Dari kondisi tersebut, ia kemudian mencoba mengubah pola bisnis pertaniannya. Sistem hidroponik dipilih karena memungkinkan produksi sayuran dilakukan secara lebih terencana dengan target panen setiap pekan.

Untuk sayuran, Dimas menargetkan panen sekitar 100 kilogram setiap minggu dari lahan di Tegalsari. Sementara untuk tanaman buah, target produksinya dirancang dengan siklus panen sekitar satu bulan sekali.

Menurutnya, produktivitas menjadi salah satu alasan utama ia bertahan menggunakan hidroponik. Dengan luasan lahan yang sama, hasil produksi hidroponik menurut pengalaman yang dijalaninya bisa mencapai lima hingga enam kali lipat dibandingkan pola tanam konvensional.

"Kalau di lahan biasa dengan hidroponik itu hasilnya bisa lima sampai enam kali lipat dari yang biasanya," ucap pria yang kini bekerja sebagai pegawai di Kementerian Pendidikan wilayah Blitar.

Meski demikian, sistem hidroponik membutuhkan modal yang lebih besar pada tahap awal. Investasi diperlukan untuk membangun instalasi dan menyiapkan berbagai kebutuhan produksi.

Selain produksi yang lebih terukur, sayuran hidroponik juga memiliki karakteristik yang menjadi nilai tambah bagi konsumen. Selada dan sayuran yang dihasilkan lebih mudah dijaga kebersihannya. Jika disimpan di dalam pendingin, sayuran produksinya bahkan dapat bertahan hingga sekitar satu minggu.

"Kalau kita bisa tahan sayur biasanya sampai satu minggu kalau di dalam cooler. Kalau tidak di dalam cooler atau di suhu ruang biasanya sampai tiga sampai empat hari," jelas pria asal Desa Badas ini.

Dimas mengaku, awalnya pasar selada miliknya berasal dari pelaku usaha kuliner seperti penjual kebab, gado-gado hingga makanan lainnya yang membutuhkan sayuran dalam kondisi bersih dan segar. Namun, pasar hidroponiknya kemudian berkembang. Permintaan mulai datang dari SPPG yang membutuhkan pasokan sayuran dalam jumlah lebih besar.

"Jika sebelumnya permintaan dari pelaku usaha kuliner berada di kisaran 50 kilogram per minggu, permintaan dari SPPG dapat mencapai sekitar 200 kilogram per minggu," katanya.

Dari sisi pendapatan, Dimas menyebutkan, hasil usaha sangat bergantung pada harga dan kondisi pasar. Saat harga sayuran turun, dua petak lahan yang dikelolanya dapat menghasilkan sekitar Rp10 juta hingga Rp12 juta per bulan setelah dikurangi sejumlah biaya, di luar tenaga kerja.

Namun, ketika permintaan tinggi dan kondisi produksi mendukung, hasilnya bisa jauh lebih besar. Setelah Lebaran, misalnya, ia pernah mencatat produksi hingga sekitar 500 kilogram sayuran dalam satu minggu.

Dalam kondisi tersebut, pendapatan bulanan dari usaha hidroponiknya pernah mencapai sekitar Rp30 juta dengan tenaga kerja yang sama. Meski demikian, Dimas tidak memilih strategi perang harga ketika harga sayuran di pasar konvensional sedang turun.

Ia justru mengurangi produksi dan mempertahankan konsumen yang selama ini sudah menjadi pelanggan."Kalau kita mau perang harga, kita akhirnya yang kalah. Kita hanya mencari konsumen-konsumen yang loyal," katanya.

Perjalanan membangun usaha hidroponik itu juga membuat Dimas harus menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kebutuhan tenaga kerja yang harus dilakukan hampir setiap hari, berbeda dengan pertanian konvensional yang aktivitasnya dapat dilakukan dengan jeda beberapa hari.

Faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Perubahan pola hujan yang tidak menentu dapat memengaruhi kondisi tanaman dan memicu munculnya kembali gangguan hama.

"Walaupun serangan hama dulu sudah minim, cuaca juga memengaruhi. Sekarang hujan sudah tidak terjadwal seperti dulu, itu juga memicu kembalinya hama," katanya.

Kisah sukses Dimas pun menuai apresiasi dari warga. Salah satunya Bagus, warga Kabupaten Kediri yang mengaku terinspirasi dengan inovasi pertanian modern tersebut.

"Salut sama Mas Dimas, dari lahan kecil tapi bisa menghasilkan besar. Ini jadi inspirasi buat anak muda Kediri kalau bertani itu tidak harus punya sawah luas, yang penting mau belajar dan tekun. Keren sekali usaha ini," kata Bagus.

Kini, ada beberapa titik lahan hidroponik milik Dimas dengan tanaman sayur selada dan melon. Ke depan, ia mengaku akan terus melakukan pengembangan kepada varietas lain dan juga melakukan opsi pembukaan lahan baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....