FOMO Bukan Sekadar Tren Medsos, tapi Gangguan Mental

  • 29 Jun 2026 09:55 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO yang bermakna rasa takut tertinggal kebiasaan, kini tidak lagi dipandang sebatas tren obrolan di media sosial, melainkan telah bergeser menjadi perubahan nyata pada perilaku konsumen di era digital. Dosen Manajemen Universitas Bahauddhin Mudhari Madura, Evi Nur Safitri, menyoroti bagaimana ketakutan seseorang akan tertinggalnya sebuah informasi, tren, atau pengalaman komersial yang sedang ramai dibicarakan dapat mendikte keputusan belanja masyarakat. Keputusan yang diambil pun mayoritas lahir akibat adanya dorongan sosial yang kuat, bukan atas dasar asas manfaat barang.

Evi memaparkan pola pemasaran modern saat ini dinilai sangat masif memanfaatkan kondisi psikologis tersebut melalui berbagai fitur digital penunjang. Kehadiran promosi live shopping hingga program flash sale berkala berhasil memaksa para calon pembeli untuk segera melakukan transaksi secara spontan dan impulsif. Strategi ini sengaja dirancang oleh pelaku pasar untuk memicu rasa urgensi yang tinggi di benak masyarakat, sehingga aspek kebutuhan jangka panjang sering kali terabaikan secara total.

"Kalau dari perspektif ilmu manajemen, keputusan pembelian itu idealnya dilakukan secara rasional dengan mempertimbangkan manfaat, membandingkan beberapa alternatif harga, kualitas, rating, hingga kemampuan finansial. Namun, era flash sale dan promo live sekarang ini justru memicu pembelian impulsif secara spontan tanpa memikirkan konsekuensi secara matang," ujar Evi dalam dialog bersama RRI, Senin, 29 Juni 2026.

Ia melanjutkan bahwa dampak buruk dari budaya FOMO ini ternyata tidak hanya merusak tatanan pengeluaran finansial, melainkan juga merembet pada penurunan produktivitas, aktivitas akademik, hingga gangguan kesehatan mental. Banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang menghabiskan waktu produktif mereka hanya untuk berselancar di media sosial demi berburu suatu barang. Akibatnya, waktu yang seharusnya dialokasikan untuk belajar menjadi berkurang dan memicu penurunan rasa percaya diri yang signifikan.

"FOMO ini sangat mengganggu untuk kesehatan mental, seseorang bisa sampai merasa dihantui dan terus kepikiran jika belum mendapatkan hal yang sedang viral tersebut. Bahkan ke ranah akademik juga berdampak buruk, karena banyaknya waktu yang terbuang untuk mencari informasi barang konsumtif sehingga waktu belajar produktifnya berkurang," katanya.

Sebagai langkah mitigasi di tengah masifnya gempuran konten digital, masyarakat diimbau untuk melatih kontrol diri dengan menerapkan jeda waktu sebelum melakukan transaksi belanja. Membatasi paparan konten yang bersifat konsumtif serta membedakan secara tegas antara fungsi kebutuhan nyata dengan sekadar keinginan sesaat merupakan fondasi utama.

Konsumen cerdas diharapkan mampu menyaring arus informasi di gawai mereka agar tidak mudah terseret arus tren yang merugikan. "Boleh saja kita menikmati perkembangan teknologi yang ada saat ini, tapi kita harus tetap mempunyai kontrol diri yang kuat. Biasakan untuk berhenti sebentar sebelum mengambil sekecil apapun keputusan konsumtif. Jangan bergaya tidak sesuai dengan kemampuan kita, dan jangan sampai kita terseret tren yang justru menjerumuskan kita," tutur Evi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....