Ecoton dan IAIFA Kediri dorong Pesantren Mandiri Sampah
- 13 Jun 2026 11:39 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Krisis sampah plastik di Indonesia kini telah memasuki tahap yang mengkhawatirkan dan memerlukan penanganan langsung dari sumbernya. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional lingkungan hidup yang diinisiasi oleh Fakultas Syariah Institut Agama Islam Fakih Asy’ari (IAIFA) Kediri pada Jumat, 12 Juni 2026.
Dalam pemaparannya, pegiat lingkungan dari ECOTON, Alaika Rahmatullah, membawa audiens melihat realita lapangan yang mencemaskan. Alaika memaparkan data bahwa Indonesia menghasilkan sedikitnya 8 juta ton sampah plastik per tahun.
“Tragisnya, hanya sebagian kecil dari total volume tersebut yang berhasil dikelola dengan benar oleh otoritas terkait,” ucapnya.
Kondisi buruk ini menempatkan Indonesia sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar ketiga di dunia saat ini. Tidak hanya itu, Indonesia juga masih menjadi negara pengimpor sampah plastik dari negara berkembang. Lebih parah lagi, di tingkat domestik, sebanyak 57 persen rumah tangga tercatat masih menangani sampah dengan cara dibakar.
Alaika juga mengingatkan prediksi dari United Nation Environmental Program (UNEP) mengenai ancaman mengerikan pada tahun 2050 mendatang. “Pada tahun tersebut, jumlah komoditas sampah plastik di lautan diproyeksikan akan jauh lebih banyak ketimbang jumlah ikan. Oleh karena itu, paradigma kumpul-angkut-buang harus segera diubah ke sistem pilah dari sumbernya,” katanya.
Materi realita lapangan ini memantik kesadaran para mahasiswa IAIFA Kediri yang selama ini mengaku masih awam dengan gerakan 3R. Halim, seorang mahasiswa semester akhir asal Jambi, mengungkapkan bahwa edukasi mengenai pembentukan bank sampah yang terstruktur merupakan hal baru yang sangat menarik dan sangat mendesak untuk diterapkan di area kampus.
"Menurut saya itu pentingnya pengelolaan sampah, supaya tidak sembarangan membuang sampah. Terus untuk mengelola sampah itu lebih terstruktur lah, dibagi-bagi, membuat apa itu namanya bank sampah, itu sangat menarik bagi saya. Karena saya tangkap sendiri di IAIFA itu belum ada tempat pembuangan sampah yang sangat terstruktur seperti yang diterangkan tadi," ucap Salim.
Ketertarikan dari para peserta tersebut memicu munculnya usulan kolaborasi konkret jangka panjang antara pihak kampus IAIFA dan Pesantren Darussalam dengan ECOTON. Sinergi ini diharapkan tidak berhenti pada tataran diskusi seminar saja, melainkan berlanjut pada aksi nyata pembinaan ekologis di lingkungan pendidikan berbasis agama.
Menanggapi peluang sinergi tersebut, pihak ECOTON menyatakan sangat terbuka untuk melakukan pendampingan berkala di Kediri. Ke depan, mereka siap membantu memunculkan local champion (penggerak lokal), memberikan edukasi pemilahan berkala, hingga membentuk unit Bank Sampah mandiri di pesantren yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi santri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....