Pentingnya Rencana Kedaruratan Mental Bagi Orang Tua

  • 30 Mar 2026 12:27 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, menekankan pentingnya orang tua memiliki emotional emergency plan atau rencana darurat emosi di rumah. Sama halnya dengan rencana kelahiran (birth plan), rencana emosi berfungsi sebagai panduan ketika orang tua merasa kewalahan atau di ambang ledakan amarah.

Strategi ini memastikan bahwa saat emosi memuncak, orang tua memiliki langkah konkret untuk menenangkan diri tanpa membahayakan kondisi psikologis maupun fisik anak. Anastasia menyarankan orang tua untuk memetakan tindakan teknis saat kehilangan kendali, seperti menepi sejenak ke kamar mandi atau menutup wajah dengan bantal jika anak tidak ada yang menjaga.

Menurutnya, lebih baik meluapkan emosi pada benda mati atau berteriak di luar rumah daripada melampiaskannya langsung kepada anak. “Jeda singkat ini sangat krusial agar orang tua tidak mengambil tindakan impulsif yang bisa berujung pada penyesalan mendalam di kemudian hari,” ucapnya dalam postingannya di media sosial (@anastasiasatriyo).

Setelah situasi mereda dan orang tua kembali tenang, lanjutnya, sangat penting untuk berkomunikasi dan menjelaskan apa yang baru saja terjadi kepada anak. Ia menjelaskan bahwa kejujuran orang tua tentang perjuangan mereka dalam memproses rasa marah adalah pelajaran berharga bagi anak. Dengan melihat orang tuanya berusaha keras meregulasi diri, anak akan memahami bahwa emosi negatif adalah hal manusiawi yang bisa dikelola dengan cara yang sehat.

Ia menekankan proses pemulihan psikologis anak justru terjadi saat mereka menyaksikan sisi manusiawi orang tua yang mau berjuang dan meminta maaf. Ketika orang tua mampu memaafkan diri sendiri atas kekhilafan yang terjadi dan menunjukkan perubahan sikap yang lebih tenang di hari berikutnya, anak akan menangkap pesan kuat tentang harapan.

“Jadi mereka belajar bahwa perubahan positif itu mungkin dilakukan melalui latihan konsisten dalam mengelola isu emosi setiap harinya,” ucapnya.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Pada akhirnya, melatih keterampilan regulasi emosi bukan hanya demi ketenangan orang tua, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan mental anak. Anastasia menegaskan bahwa saat orang tua berbenah, anak akan melihat kesempatan yang sama untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih stabil secara emosional. Inilah esensi dari pola asuh yang suportif, yakni tumbuh bersama anak dalam proses pendewasaan emosi yang jujur dan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....