Senyawa-Senyawa Kimia dalam Tanah yang Beraroma
- 29 Sep 2026 18:24 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri- Tanah akan menciptakan aroma atau bau khasnya dalam situasi tertentu. Bau itulah yang membuat tanah terasa lebih dari sekedar sesuatu yang kita injak atau tempat bertumbuhnya flora indah di Nusantara. Banyak hidup senyawa-senyawa tersembunyi di dalam tanah, seperti Geosmin, minyak alami tumbuhan, petrichor, dan amonia/pembusukan. Semua senyawa ini menimbulkan bau yang berbeda-beda. Yuk kita urai satu per satu!
Geosmin, menurut Geotecha, merupakan senyawa organik yang dihasilkan oleh bakteri tanah seperti genus Streptomyces. Saat cuaca kering atau kemarau, senyawa ini akan menumpuk di dalam tanah. Geosmin berasal dari bahasa Yunani, yaitu geo yang berarti bumi dan osme yang memiliki arti bau. Senyawa ini memiliki rumus kimia C₁₂H₂₂O dan tergolong sebagai alkohol bisiklik.
Saat hujan turun membasahi tanah yang kering, geosmin terlepas ke udara bersama tetesan air dan angin, lalu menciptakan aroma segar yang sering disebut sebagai petrikor. Keberadaan geosmin dalam jumlah kecil dapat membuat air minum dari penyulingan tanah berbau apek atau seperti tanah, meskipun tidak berbahaya bagi kesehatan. Jenis ikan seperti lele atau ikan mas dapat menyerap geosmin dari air atau lumpur dari dalam kolam, sehingga dagingnya terkadang terasa seperti lumpur.
Minyak alami tumbuhan merupakan bagian dari senyawa organik tanah yang berasal dari sisa-sisa metabolit sekunder suatu tanaman. Ketika bagian tumbuhan seperti daun, akar, bunga, atau batang, mengalami gugur dan mati, minyak alami di dalamnya, terutama munyak atsiri dan nabati, akan luruh dan terurai ke dalam tanah. Minyak tumbuhan yang masuk ke tanah merupakan senyawa kompleks, seperti terpenoid, monoterpena, seskuiterpena, asam lemak, dan senyawa aromatik.
Senyawa-senyawa ini merupakan komponen penting dalam membentuk kompos atau humus alami, yang berperan menjaga kesuburan dan memperbaiki struktur fisik tanah. Ketika butiran air hujan mengenai tanah, minyak alami tumbuhan ini akan oyomatis dilepaskan ke udara bersama senyawa geosmin (senyawa organik hasil bakteri tanah). Kombinasi keduanya menciptakan aroma khas nan menyegarkan.
Selanjutnya adalah, petrichor. Ini adalah senyawa dengan aroma atau bau alami yang harum dan khas yang muncul saat air hujan pertama kali jatuh membasahi tanah yang kering. Dalam bahasa Yunani, petrichor berasal dari kata petra yang berarti batu, dan ichor yaitu cairan yang mengalir di pembuluh darah para dewa.
Petrichor pertama kali dicetuskan tahun 1964 oleh dua peneliti asal Australia dan Inggris, Isabel Joy Bear dan Roderick G. Thomas. Dikutip dari Agribisnis Digital, bau dari senyawa petrichor, sangat menenangkan karena melibatkan kombinasi kuat antara warisan evplusi purba, cara kerja otak manusia, dan faktor psikologis.
Bagi nenek moyang kita dulu, aroma petrichor adalah sinyal keselamatan dan kehidupan. Bau tanah basah menandakan berakhirnya musim kemarau, datangnya air bersih, serta tanah yang subur untuk bertanam. Secara naluriah, manusia purba juga mengaitkan aroma ini dengan kelimpahan sumber daya. Pola ini tertanam kuat dalam genetik manusia, sehingga saat menghirupnya, otak secara otomatis merasa aman dan bebas dari pemikiran soal rasa lapar.
Terakhir, adalah bau khas senyawa amonia atau pembusukan. Senyawa amonia di dalam tanah adalah bagian penting dari siklus nitrogen yang berfungsi sebagai sumber nutrisi utama untuk pertumbuhan tanaman. Sisa-sisa tanaman, kotoran hewan, dan organisme mati yang membusuk oleh bakteri pengurai akan menghasilkan aroma yang sangat menyengat. Ini merupakan proses alami di mana bakteri tertentu mengubah gas nitrogen bebas dari udara menjadi bentuk yang dapat digunakan tanah kembali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....