Cuaca Ekstrem Ancam Pembudidaya Ikan Koi di Jombang

  • 31 Mar 2026 21:35 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang – Peralihan musim yang ditandai dengan cuaca ekstrem mulai berdampak pada sektor budidaya ikan koi di Kabupaten Jombang. Perubahan suhu air yang tidak stabil hingga curah hujan tinggi menjadi tantangan serius bagi para pembudidaya, terutama skala rumahan.

Sutrisno, pembudidaya ikan koi di Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, mengaku harus meningkatkan pengawasan terhadap kolamnya sejak intensitas hujan meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, kondisi cuaca saat ini sangat memengaruhi kesehatan ikan.

“Perubahan suhu air yang mendadak bisa membuat ikan stres. Kalau tidak segera ditangani, ikan bisa terserang penyakit bahkan mati,” ujar Sutrisno, Selasa, 31 Maret 2026.

Ia menjelaskan, dalam budidaya koi, kualitas air menjadi faktor utama yang harus dijaga. Pada musim hujan, air kolam cenderung lebih keruh dan kadar oksigen menurun, sehingga perlu dilakukan penggantian air secara berkala serta penambahan aerasi.

Di tempat budidayanya, Sutrisno memelihara sekitar 2.000 hingga 3.000 ekor ikan koi dengan berbagai ukuran, mulai dari benih hingga siap jual. Jenis yang dibudidayakan antara lain kohaku, sanke, dan showa yang memiliki nilai jual lebih tinggi di pasaran.

“Untuk ukuran kecil biasanya dijual mulai Rp5.000 sampai Rp20.000 per ekor, sedangkan yang ukuran besar bisa mencapai ratusan ribu, tergantung kualitas dan coraknya,” jelasnya.

Perawatan ikan koi, lanjut dia, meliputi pemberian pakan secara teratur dua hingga tiga kali sehari, pengecekan kualitas air, serta pemisahan ikan yang sakit agar tidak menular ke yang lain. Namun, pada kondisi cuaca ekstrem, frekuensi pengecekan harus lebih sering dilakukan.

Sutrisno menambahkan, salah satu tantangan terbesar saat musim hujan adalah meningkatnya risiko serangan penyakit seperti jamur dan bakteri. Hal ini disebabkan oleh kondisi air yang tidak stabil serta penurunan daya tahan tubuh ikan.

“Kalau hujan terus, air cepat kotor. Ikan jadi gampang kena jamur. Biasanya harus ditambah obat atau vitamin supaya tetap sehat,” katanya.

Selain itu, volume air yang meningkat akibat hujan deras juga berpotensi membuat ikan melompat keluar kolam, terutama jika sistem pengaman kurang memadai. Oleh karena itu, pembudidaya harus memastikan kolam memiliki sirkulasi air yang baik dan pagar pengaman.

Dalam kondisi normal, Sutrisno mampu menjual ratusan ekor ikan koi setiap bulan. Namun, saat cuaca tidak menentu, angka kematian ikan bisa meningkat hingga 10 persen jika tidak ditangani dengan baik.

“Kalau perawatan maksimal, kematian bisa ditekan. Tapi tetap ada risiko, apalagi saat cuaca seperti sekarang,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....