Dongeng, Stimulasi Baik bagi Kecerdasan Bahasa Anak
- 20 Jul 2026 12:15 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri- Tumbuh dan kembang anak tergantung pada kebiasaan yang rutin dilakukan oleh orang tua. Stimulasi - stimulasi baik yang mampu merangsang kecerdasan anak wajib diperhatikan terutama kecerdasan bahasa pada anak usia 0-6 tahun. Penguatan aktivitas ini mampu membuat anak sejak dini memiliki perkembangan wawasan bahasa yang luas untuk bekal memasuki dunia sekolah.
Pradina Yeni Oktavia, yang akrab di sapa Kak Dina, Founder Komunitas Dongeng Kediri, kepada RRI, Senin, 20 Juli 2026, mengatakan bahwa dongeng membuat anak mengenal banyak kosa kata. Dongeng juga membuat anak punya ruang aman untuk memproses emosi, berkespresi, dan berkreasi. Selain itu, dongeng juga menjadi media untuk anak tampil percaya diri.
"Banyak anak-anak menyukai dongeng. Di komunitas Dongeng Kediri kami juga ajarkan kepada mereka bagaimana tampil percaya diri dan ikut ajang perlombaan. Kita juga membuat mereka mampu mengenal dan mengasah berbagai bentuk ekspresi emosional diri dan secara langsung berperan dalam menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri," kata Kak Dina.
Menurutnya, melalui dongeng, anak-anak dapat berpikir kritis, dan mengasah daya ingat. Anak juga dikenalkan dengan membangun empati melalui berbagai karakter dongeng. Kemampuan kognitif anak dapat tumbuh seiring aktivitas ini menjadi rutinitas harian. Secara penelitian, perkembangan psikologis baik juga dapat muncul berkat mendongeng.
"Usia dini pada anak, yakni pada rentang usia 0 hingga 6 tahun, merupakan masa-masa emas pertumbuhannya. Maka dari itu, kehadiran dan peran orang tua sangat penting untuk membantu buah hatinya tumbuh dengan tubuh yang sehat dan perkembangan kognitif yang baik," ucap Kak Dina.
National Institute of Child Health and Human Development juga menyebutkan bahwa dalam penelitian saraf menunjukkan ketika orangtua dan pengasuh berinteraksi secara verbal dengan anak, termasuk membacakan untuk mereka, anak-anak belajar jauh lebih banyak daripada yang orangtua kira sebelumnya. Membaca dongeng yang berisi pesan moral terbukti meningkatkan nilai moral pada anak juga, sehingga orangtua bisa melanjutkan kebiasaan baik ini.
Neski demikian, Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023, mencatat aktivitas yang berpengaruh besar pada tumbuh kembang anak seperti membaca dan dibacakan buku tidak terlalu banyak dilakukan. Hanya 17,21% anak usia dini yang dibacakan buku cerita atau dongeng oleh orang tuanya. Lebih sedikit lagi, hanya ada 11,21% anak usia dini yang belajar atau membaca buku bersama orang tua.
"Sebagai solusi selain munculnya komunitas dongeng, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga telah mendorong gerakan 15 Menit Membacakan Buku di PAUD dan SD. Program ini bertujuan menanamkan literasi sejak dini. Buku cerita bergambar dan dongeng lisan adalah pintu masuk literasi. Anak yang suka didongengi akan cenderung lebih suka membaca saat besar," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....