Perilaku Konsumtif Gen Z Bentuk Eksistensi Diri

  • 23 Mei 2026 05:50 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri: Generasi Z (Gen Z) yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 dikenal sebagai generasi paling dekat dengan teknologi. Gen Z merupakan generasi yang tumbuh sebagai digital native sejak usia dini. Perilaku ini mendorong Gen Z akrab dan berteman baik dengan dunia digital, yang sekaligus secara tidak langsung ikut mendorong gaya hidup lebih konsumtif.

Menurut Fathirna Arifani, Dosen Manajemen Universitas Bahauddhin Mudhari Madura, kepada RRI, Jumat, 22 Mei 2026, hal tersebut adalah bentuk eksistensi generasi Z di tengah modernisasi. Rasa tidak ingin tertinggal dan haus akan validasi membuat Gen Z membutuhkan ruang untuk aktualisasi diri.

"Ini bentuk eksistensi mereka. Generasi Z itu tidak mau dianggap kuper, selalu haus akan validitas karena merasa harus serba mengikuti tren, konsumtif menjadi hal yang lumrah bagi mereka dan banyak yang menyebut sebagai bentuk kewajaran," kata Fathir.

Generasi Z menjadikan perilaku tersebut sebagai identitas diri. Ruang digital yang dibuka seluas-luasnya bagi semua kalangan membuat pola hidup tersebut terasa sangat didukung. Para konten kreator atau influencer juga memberi pengaruh besar. Kehidupan yang ditampilkan di dalam media sosial membuat Gen Z selalu mencoba hal baru.

"Rasa ingin tahunya besar. Rasa ingin seperti setara juga besar. Tapi mereka juga suka lupa bahwa mengikuti mode atau lifestyle tidak akan ada ujungnya. Ini bisa menjadi jebakan jika tidak mampu mengontrol diri," ucap Fathir.

Menurutnya, Generasi Z termasuk generasi paling rawan dibanding yang lain. Perilaku konsumtif sering dibungkus dalam istilah 'healing' atau 'self reward', padahal bisa mematikan dan berdampak negatif bagi finansial ataupun masa depan. Kurangnya rasa percaya diri dan kerentanan psikis, membuat Gen Z mencoba segala cara untuk bisa diterima di kalangan manapun.

"Gen Z memiliki kecenderungan mudah merasa depresi, hal ini dikarenakan ekspektasi yang tinggi terhadap keseimbangan hidup. Itulah mengapa mereka selalu ingin sama supaya bisa diterima," ujarnya.

Ditambahkannya, literasi digital sangat dibutuhkan oleh Gen Z, agar tidak terjebak dalam Fear of Missing Out (FOMO). Fenomena psikologis berupa rasa cemas yang muncul saat orang lain mampu menikmati pengalaman, tren, dan/atau informasi penting. Sementara mereka tidak ikut terlibat di dalamnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....