Wayang Topeng hingga Ludruk Disuguhkan dalam Pameran Fotografi di Jombang

  • 30 Mar 2026 16:52 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang - Pameran fotografi budaya di Kabupaten Jombang menampilkan karya yang mengangkat kesenian ludruk dan Wayang Topeng Jatiduwur sebagai refleksi sosial dan identitas budaya lokal. Kegiatan ini digelar di Gedung Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Jombang, Senin, 30 Maret 2026.

Dua seniman visual, Sofan Kurniawan dan Luhur Wahyu Wijaya, menghadirkan perspektif berbeda dalam membaca tradisi melalui medium fotografi. Karya yang dipamerkan tidak hanya menonjolkan aspek visual, tetapi juga mengandung tafsir atas dinamika sosial dan keberlanjutan budaya lokal.

Sofan Kurniawan, yang dikenal dengan nama Sofanka, mengangkat tema “Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan”. Ia menyoroti praktik travesti dalam kesenian ludruk, yakni peran laki-laki yang memerankan tokoh perempuan di atas panggung.

“Ludruk tidak sekadar tontonan, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan kritik sosial yang hidup di masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, tubuh dalam pertunjukan ludruk bukan hanya unsur artistik, melainkan juga medium yang sarat makna sosial dan politik. Ia melihat praktik travesti sebagai bentuk ekspresi yang telah lama menjadi bagian dari dinamika budaya, termasuk sebagai simbol perlawanan sejak masa lampau.

Sementara itu, Luhur Wahyu Wijaya menampilkan karya bertajuk “Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama dalam Tubuh Baru”. Melalui karya tersebut, ia berupaya mengangkat kembali kesenian yang dinilai mulai terpinggirkan.

“Melalui fotografi, saya mencoba menghadirkan kembali tradisi lama agar bisa dibaca dalam konteks masa kini,” katanya.

Ia menilai, Wayang Topeng Jatiduwur tidak hanya sebagai objek visual, tetapi juga representasi identitas dan jejak sejarah masyarakat. Dalam karya-karyanya, tradisi tersebut ditempatkan sebagai simbol keberlanjutan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu pengunjung pameran, Dwi Rahmawati, mengaku terkesan dengan konsep yang dihadirkan dalam karya fotografi tersebut. Ia menilai pameran ini tidak hanya menyajikan visual yang menarik, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang budaya lokal.

“Saya jadi lebih memahami bahwa ludruk dan wayang topeng itu bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga punya makna sosial yang dalam,” ujarnya.

Pameran ini menjadi salah satu upaya untuk menghidupkan kembali perhatian terhadap budaya lokal di tengah perubahan zaman. Selain menyajikan karya visual, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong publik untuk memahami nilai dan pesan yang terkandung dalam setiap karya yang ditampilkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....