Jimpitan, Tradisi Memperkuat Solidaritas dan Gotong-royong Warga
- 25 Jul 2024 08:11 WIB
- Kediri
KBRN, Kediri: Eksisnya tradisi jimpitan masih bertahan di zaman sekarang. Tentu tradisi ini bukan hal asing lagi bagi masyarakat Jawa, utamanya mereka yang hidup di daerah pedesaan. Tradisi jimpitan sendiri merupakan aksi gotong-royong yang dilakukan oleh masyarakat di lingkungan kecil, seperti lingkup RT/RW, kelurahan, atau karang taruna.
Menurut cerita Triatmono, salah satu tokoh masyarakat di Dusun Talun, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, tradisi jimpitan ini bertujuan untuk menguatkan solidaritas dan gotong-royong antar masyarakat.
“Jimpitan itu nominalnya sukarela. Rata-rata Rp 5.00 atau Rp 1.000. Kalau di sini biasanya pakai omplong (red, kaleng bekas rokok) yang di taruh di masing-masing rumahnya. Itu tiap hari di isi sama yang punya rumah, terus setiap malam yang jaga ronda bakal keliling buat ambil jimpitan,” jelas pria yang akrab disapa Tri saat diwawacara RRI, Rabu (24/7/2024).
Tri mengatakan, tradisi jimpitan ini memang sudah ada sejak dulu. Uang sumbangan sukarela yang terkumpul itu akan dialokasikan ke kas dusun setempat dan digunakan oleh warga bilamana suatu waktu dibutuhkan.
“Untuk peruntukan ya ndak macam-macam. Biasanya dipakai kalau melek bengi (red, jaga malam), kita belikan kopi, gorengan, atau dipakai kalau ada kegiatan seperti Agustusan, kadang-kadang juga untuk kebutuhan perbaikan pos ronda,” kata Tri.
Lebih lanjut, Tri menyebut bahwa hasil jimpitan ini juga digunakan untuk membantu warga setempat yang kurang mampu.
“Contoh, kalau pas lebaran itu kita kumpulkan, dan biasanya ada warga yang sukarela juga nambahin nominalnya. Itu kemudian kita belikan sembako, dan peruntukannya adalah pembagian zakat fitrah untuk masyarakat,” ucapnya.
Langgengnya tradisi ini pun menjadi salah satu upaya warga setempat untuk selalu menciptakan suasana yang guyub rukun, saling tolong-menolong, meningkatkan rasa sosial, dan peduli antar sesama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....