Oplet, Cikal Bakal Angkutan Kota di Indonesia

  • 27 Agt 2026 15:55 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Guna mendukung mobiltas masyarakat, orang dulu menggunakan Angkutan Kota (Angkot) bernama Oplet. Bisa dibilang, Oplet adalah nenek moyang angkot yang ada saat ini. Menelusuri catatan Perpusnas, bentuk oplet itu unik, jadul, seperti mobil peninggalan Belanda. Namun mobil ini aslinya adalah produksi pabrik mobil Morris asal Inggris. Oplet masuk ke Indonesia sekitar tahun 1960-an.

Oplet berasal dari kata "autolettes", yang kemudian supaya memudahkan sebutannya diubah menjadi Oplet. Angkutan ini berukuran kecil yang mampu menampung sekitar enam hingga delapan penumpang. Pelayanannya pun lebih cepat dengan ongkos sedikit lebih tinggi daripada trem. Dalam perjalananannya, masyarakat terutama yang tinggal di Jakarta, memodifikasi mobil jeep, Austin, dan Morris menjadi angkutan yang dapat mengangkut banyak orang.

Oplet ditambah dengan kabin kayu dibelakang sopir. Lalu orang menyebutnya "Otolet" atau tetap mengikuti sebutan merk Jerman yakni Oplet. Oplet hanya ada di kota besar, pertama kali datang adalah di Jakarta. Melayani rute Jatinegara, Kampung Melayu, Tanah Abang, Tanjung Priok, Kebayoran Lama, hingga Palmerah.

Mengutip dari Good News From Indonesia, untuk mendapatkan ijin trayek, Oplet harus diperiksa kekuatannya oleh Jawatan Lalu Lintas Jalan Raya (JLLJ) antara lain di Pulo Gadung, Jalan Gatot Subroto, Tanjung Priok, dan Cengkareng. Mobil yang masih kuat untuk membawa muatan antara 300 sampai 400 kg barang dapat diizinkan mengubah wujudnya dengan membayar uang kir Rp2.000.

Oplet-oplet tersebut memiliki pintu penumpang di bagian belakang, yang mana badannya penuh dengan iklan. Jendelanya tanpa kaca. Gubernur Jakarta 1977 – 1982 pernah mengatakan bahwa oplet sempat menjadi pelarian bagi kaum nasionalis. Mereka memilih menjadi sopir oplet ketimbang harus bekerja sebagai pegawainya orang Belanda.

Pengeluaran kotor sebuah oplet setiap hari mencapai antara Rp1.000 sampai Rp2.500. Jumlah ini termasuk bensin, sewa, oli serta ongkos-ongkos perbaikan kecil lain. Sementara pendapatan para sopir antara Rp3.000 - Rp3.600. Namun kejadian seperti itu jarang terjadi, karena selain bersaing dengan bus kota, kemacetan juga mempengaruhi kurva penghasilan supir.

Seiring waktu, semakin bertambahnya umur oplet, kendaraam ini tak lagi setangguh seperti pertama kali datang. Sering mogok, dan mengalami kerusakan. Akhrinya, izin trayek dicabut pada tahun 1980 dan oplet tak lagi menapakkan kakinya di jalanan ibukota. Gubernur DKI Jakarta kala itu, Tjokropranolo, yang menjadi peramu kebijakan tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....