Mencintai Budaya lewat Lakon Wahyu Godo Inten
- 08 Agt 2026 18:10 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Di bawah sorot lampu dan iringan gamelan, pagelaran wayang kulit semalam suntuk menjadi penutup Dies Natalis ke-49, menghadirkan dalang Ki Sun Gondrong dengan lakon Wahyu Godo Inten
RRI.CO.ID, Kediri – Malam itu, halaman Kampus 1 Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri tak sekadar menjadi ruang perayaan, tetapi juga ruang perjumpaan antara tradisi dan generasi muda. Di bawah sorot lampu dan iringan gamelan, pagelaran wayang kulit semalam suntuk menjadi penutup Dies Natalis ke-49, menghadirkan dalang Ki Sun Gondrong dengan lakon Wahyu Godo Inten.
Bagi sebagian mahasiswa, ini mungkin kali pertama mereka menyaksikan wayang secara langsung pada Rabu malam, 5 Agustus 2026. Namun justru di situlah makna kegiatan ini terasa kuat, menghadirkan kembali budaya adiluhung ke tengah generasi yang tumbuh pada era digital.
Rektor UNP Kediri, Dr. Zainal Afandi, menyebut pagelaran wayang bukan sekadar hiburan penutup rangkaian dies natalis, melainkan bagian dari upaya kampus menanamkan nilai budaya kepada civitas akademika, khususnya mahasiswa.
"Sebagai ungkapan rasa syukur atas usia ke-49 sekaligus capaian yang telah diraih, kami memilih wayang kulit sebagai bentuk tasyakuran. Ini juga menjadi ikhtiar kami agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai budaya bangsa," ujar Zainal, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Menurut Zainal, kampus memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan budaya. Di tengah modernisasi, generasi muda perlu dikenalkan kembali pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi seperti wayang.
Lakon Wahyu Godo Inten dipilih bukan tanpa alasan. Kisah perjuangan Wisanggeni, putra Arjuna, dalam membantu keluarga Pandawa meraih kemenangan dalam Perang Baratayudha dinilai sarat pesan moral yang relevan dengan dunia pendidikan.
"Nilai perjuangan, pengorbanan, dan kesetiaan dalam lakon ini selaras dengan semangat kami dalam membangun pendidikan. Itu yang ingin kami wariskan kepada mahasiswa," jelasnya.
Bagi UNP Kediri, wayang bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Setiap adegan menyimpan pesan tentang kepemimpinan, keberanian, hingga integritas nilai-nilai yang diharapkan dapat membentuk karakter generasi muda.
Salah satu mahasiswa UNP Kediri, Mohammad, mengaku terkesan dengan pagelaran tersebut. Ia menilai kegiatan seperti ini menjadi pengalaman baru sekaligus membuka wawasan tentang budaya yang selama ini jarang ia saksikan secara langsung.
"Biasanya hanya lihat sekilas di media sosial, tapi malam ini bisa nonton langsung. Ternyata ceritanya dalam dan banyak pesan moralnya. Saya jadi lebih paham kenapa wayang itu penting untuk dilestarikan," kata Mohammad.
Ia berharap, kampus terus menghadirkan kegiatan serupa agar mahasiswa semakin dekat dengan budaya lokal. Menurutnya, pendekatan seperti ini lebih efektif untuk mengenalkan nilai-nilai tradisi kepada generasi muda.
"Semoga ke depan tidak hanya saat dies natalis saja, tapi bisa rutin. Karena ini bukan hanya hiburan, tapi juga pembelajaran yang menyenangkan bagi mahasiswa," tambahnya.
Menutup rangkaian kegiatan, Zainal kembali mengajak seluruh civitas akademika menyongsong usia emas UNP Kediri ke-50 pada 2027 dengan semangat baru. Ia berharap, kampus tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya generasi muda yang berkarakter dan berbudaya.
"Menuju 50 tahun, mari kita perkuat prestasi sekaligus menjaga jati diri bangsa. Kampus harus menjadi tempat lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakar pada budaya," katanya.
Selain pagelaran wayang, UNP Kediri juga menyerahkan Anugerah Kampus 2026 kepada unit kerja, dosen, tenaga kependidikan, dan program studi berprestasi. Apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan atas kinerja terbaik sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan.
Kategori Unit Kerja Unggul diraih Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains (FIKS), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Lembaga Pengembangan Mutu dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPMPSDM). Sementara Tenaga Kependidikan Unggul diberikan kepada Arif Erwan, Aris Rahayu, dan Danang Sasongko. Dosen Unggul diraih Dr. Ika Santia, M.Pd., Dr. Faisol, M.M., serta Dr. M. Anas, M.M., M.Ak. Adapun Program Studi Unggul diberikan kepada PBSI, Pendidikan Matematika, dan PGSD.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....