Kisah Kenteng Bekas Bom, Menggema di Munas-Konbes NU 2026

  • 21 Jun 2026 22:37 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Suara dentangan kenteng memecah suasana malam di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri
  • Kenteng yang digunakan pada Sabtu malam, 20 Juni 2026 bukanlah alat penanda waktu biasa, tapi benda tersebut berasal dari bom yang tidak meledak saat masa penjajahan Belanda

RRI.CO.ID, Kediri – Suara dentangan kenteng memecah suasana malam di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri.

Di hadapan ribuan peserta dan tamu undangan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026, Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar menabuh kenteng sebanyak sembilan kali.

Tabuhan itu bukan sekadar seremoni pembukaan. Di balik bunyi nyaring yang menggema di kompleks pesantren tersebut, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, ketahanan, dan jejak sejarah yang melintasi generasi.

Kenteng yang digunakan pada Sabtu malam, 20 Juni 2026 bukanlah alat penanda waktu biasa. Benda tersebut berasal dari bom yang tidak meledak saat masa penjajahan Belanda.

Puluhan tahun lalu, bom itu pernah menjadi simbol ancaman perang. Kini, ia justru menjadi simbol kehidupan, pendidikan, dan dakwah di lingkungan pesantren.

Bagi sebagian tamu yang hadir, kenteng itu mungkin hanya terlihat seperti benda logam tua yang telah termakan usia.

Namun bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, kenteng tersebut adalah saksi bisu perjalanan sejarah bangsa sekaligus perjalanan panjang pesantren yang berdiri sejak awal abad ke-20.

Menurut salah satu keluarga besar pondok, Gus Salam, bom tersebut ditemukan di area belakang pesantren setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945. Saat itu, kawasan pesantren tidak luput dari situasi perang dan gejolak perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Bom yang dijatuhkan pasukan Belanda itu tidak meledak. Alih-alih menjadi penyebab kerusakan, benda tersebut justru diselamatkan dan dimanfaatkan oleh para pengasuh pesantren.

"Usai bangsa Indonesia memproklamirkan diri merdeka pada tahun 1945, ditemukan bom di belakang Pondok Pesantren Ploso. Selanjutnya, oleh pengasuh pondok pesantren, bom tadi dimodifikasi dan dimanfaatkan," ungkap Gus Salam di hadapan para tamu undangan.

Keputusan mengubah bom menjadi kenteng bukan sekadar pilihan praktis. Ada nilai simbolik yang kuat di baliknya. Benda yang semula diciptakan untuk menghancurkan, diubah menjadi alat yang mengajak orang beribadah dan menuntut ilmu.

Sejak saat itu, kenteng menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan para santri. Suaranya terdengar setiap hari, mengiringi ritme kehidupan di pesantren yang telah melahirkan banyak ulama dan tokoh bangsa.

Ketika waktu salat tiba, kenteng ditabuh sebagai penanda. Saat kegiatan mengaji akan dimulai, dentangannya kembali terdengar. Dalam berbagai agenda penting pesantren, kenteng tersebut juga selalu hadir sebagai penanda dimulainya sebuah kegiatan.

Di tengah perkembangan teknologi yang menghadirkan pengeras suara modern hingga aplikasi pengingat waktu salat di telepon genggam, Pondok Pesantren Ploso tetap mempertahankan kenteng bersejarah itu. Bukan semata karena fungsinya, melainkan karena nilai sejarah yang dikandungnya.

Bagi para santri, kenteng tersebut mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya tersimpan dalam buku atau museum. Sejarah juga dapat hidup dalam benda-benda sederhana yang masih digunakan hingga hari ini.

Tak heran jika kenteng itu kemudian menjadi salah satu ikon Pondok Pesantren Al-Falah Ploso. Keberadaannya tidak hanya dikenal oleh para santri, tetapi juga oleh masyarakat yang datang berkunjung ke pesantren tersebut.

Di tengah kemeriahan pembukaan Munas dan Konbes NU 2026, ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari wajah Pengasuh Utama Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, KH Nurul Huda Jazuli.

Di usia senjanya, kiai sepuh itu menjadi saksi bagaimana pesantren yang diasuhnya menjadi titik temu para ulama, tokoh nasional, pejabat negara, dan warga Nahdliyin dari seluruh penjuru Indonesia.

Dengan penuh rasa syukur, KH Nurul Huda Jazuli menyaksikan ribuan tamu memenuhi kawasan pesantren yang selama puluhan tahun menjadi pusat pendidikan dan dakwah Islam di Kediri. Momentum tersebut menjadi catatan bersejarah tersendiri bagi Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.

"Semoga sesuatu yang baik untuk perkembangan NU ini menjadi slogan yang selalu dibunyikan," kata KH Nurul Huda Jazuli.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan sebenarnya sudah terasa sejak sore hari. Kompleks pesantren yang biasanya dipenuhi aktivitas santri berubah menjadi ruang silaturahmi besar keluarga Nahdlatul Ulama.

Saat hadir di Kediri, Ketua Umum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf tampak menyusuri sejumlah area pesantren bersama Sekjen PBNU Gus Ipul Saifullah Yusuf dan dzuriyah Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, KH Abdul Rahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar. Ketiganya menyambut langsung kedatangan para tamu penting yang terus mengalir memasuki area pesantren.

Pemandangan tersebut menghadirkan suasana akrab yang jarang ditemui dalam forum berskala nasional. Tidak ada sekat yang mencolok antara ulama, pejabat, maupun tamu undangan. Semuanya larut dalam suasana kebersamaan khas pesantren.

Di deretan kursi undangan kehormatan, tampak hadir Wakil Presiden RI ke-13 KH Ma'ruf Amin. Kehadirannya semakin menambah khidmat suasana pembukaan Munas dan Konbes NU.

Duduk berdampingan dengan para ulama kharismatik nasional, terlihat budayawan sekaligus Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Anwar Manshur, serta Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar.

Kehadiran jajaran pemerintahan juga menambah makna acara malam itu. Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi hadir membaur bersama para kiai dan pengurus PBNU.

Tak ketinggalan, putri sulung Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid, turut hadir bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, serta Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa.

Pemilihan kenteng bersejarah sebagai penanda pembukaan Munas dan Konbes NU 2026 terasa begitu sarat makna. Di tengah pembahasan berbagai isu keumatan, kebangsaan, dan masa depan organisasi, para peserta diajak menoleh pada perjalanan panjang sejarah bangsa dan pesantren.

Dentangan sembilan kali yang dilakukan KH Miftahul Akhyar malam itu seolah bukan hanya menandai dimulainya forum tertinggi NU. Suara logam tua tersebut juga menghidupkan kembali ingatan tentang masa ketika bangsa ini berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Puluhan tahun kemudian, bom yang gagal meledak itu masih terus bersuara. Namun bukan lagi untuk menebar ketakutan atau menghadirkan kehancuran.

Dari halaman sebuah pesantren di Kediri, benda itu kini mengajak orang salat, memanggil santri mengaji, serta menjadi pengingat bahwa dari sisa-sisa perang sekalipun, selalu ada ruang untuk melahirkan manfaat, harapan, dan peradaban.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....