Rawat Ibu Pengidap Tumor Otak, Atlet Kriket Kediri Jualan Mawar Demi Kuliah
- 23 Apr 2026 16:00 WIB
- Kediri
Poin Utama
- ujian tak berhenti di situ, sebab Maftukhatul sudah 4 tahun berjuang melawan tumor otak. Gejala awalnya kejang, tangan dan kaki kanan tak bisa digerakkan
- Di balik semua beban itu, Tsany punya dua mimpi lulus kuliah dan jadi atlet kriket profesional, serta pelatih
RRI.CO.ID, Kediri - Siang itu, wangi mawar menyeruak dari rumah sederhana di Desa Gadungan, Puncu, Kediri. Matahari terik, tapi halaman yang penuh pot warna-warni bikin suasana tampak sejuk.
Di antara barisan mawar Kalimantan tanpa duri, Malang, dan lokal, dua perempuan menyambut dengan senyum yang sama tulusnya. "Silakan masuk, maaf di sini agak kotor," sapa pemilik Rumah Mawar dan atlet Kriket asal Kabupaten Kediri, Tsany Zahratussita, Kamis 23 April 2026.
Tsany yang kini berusia 18 tahun, mengaku hidupnya dipenuhi peran ganda. Pagi sekolah, sore latihan kriket, malam bantu ibu.
Sejak ayahnya wafat, beban keluarga jatuh ke pundak sang ibu yang kini berusia 48 tahun. Dua tahun terakhir, mereka bertahan dari jualan mawar hasil budidaya sendiri, yang dijual seharga Rp15.000 sampai Rp40.000 per pot.
"Ini untuk tambahan biaya sehari-hari," kata Tsany.
Tapi ujian tak berhenti di situ, sebab Maftukhatul sudah 4 tahun berjuang melawan tumor otak. Gejala awalnya kejang, tangan dan kaki kanan tak bisa digerakkan.
"Alhamdulillah sekarang sudah bisa aktivitas lagi," ujar Tukah, sapaan akrabnya.
Di lokasi ini juga terlihat kakak Tsany yang baru kecelakaan. Rahangnya harus dioperasi, sehingga kondisi rumah bikin Tsany ambil alih banyak hal merawat tanaman, memasak, dan mengurus rumah.
"Ibu saya sakit tumor otak sejak lama. Setelah ayah meninggal, kondisinya makin parah," ucap Tsany pelan.
Meski begitu, gadis ini tak mau menyerah karena sejak Januari 2025, Tsany mulai serius di olahraga kriket. Baru beberapa bulan, ia sudah bawa pulang perunggu Porprov Jatim 2025 dan perak Kejurnas di Bali.
"Alhamdulillah di kejurnas dapat perak, itu momen paling berkesan," katanya, matanya berbinar.
Prestasi itu jadi tiket emas bagi Tsany yang akhirnya diterima di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang lewat jalur prestasi tahun ajaran 2026/2027. Meski kabar itu membuatnya gembira, tapi juga bikin khawatir, terlebih UKT-nya Rp4.750.000 per semester.
"Waktu tahu UKT cukup tinggi, saya sempat bingung dan sedih, terutama buat semester berikutnya," kata Tsany.
Ia mengatakan, kampus tersebut memang memberikan beasiswa bebas biaya untuk dua semester awal. Namun, setelahnya Tsany harus putar otak, sehingga kuliah sambil jualan mawar tetap jalan.
Ia juga melakukan kegiatan meronce bunga untuk menambah penghasilan. "Saya ingin tetap kuliah, tapi juga harus bantu keluarga. Jadi saya berusaha cari penghasilan sendiri," katanya.
Di balik semua beban itu, Tsany punya dua mimpi lulus kuliah dan jadi atlet kriket profesional, serta pelatih. "Motivasi terbesar saya adalah ibu. Saya ingin membahagiakan beliau dan mengangkat kondisi keluarga," ucapnya tegas.
Saat ini, Maftukhatul hanya bisa mendoakan. Meski tubuhnya digerogoti tumor, semangatnya untuk anak-anak tak pernah padam.
"Saya harap, kondisi saya sekarang nggak menyurutkan semangat anak-anak buat lanjut sekolah sampai raih cita-cita," katanya lirih.
Di rumah yang wangi mawar itu, Tsany sedang menanam dua hal sekaligus bunga untuk dijual hari ini, dan masa depan untuk keluarganya pada esok hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....