Perempuan, Alam, dan Jejak Panjang Emansipasi Kartini Masa Kini
- 21 Apr 2026 20:57 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Perempuan, alam, dan jejak panjang emansipasi menjadi satu tarikan napas dalam peringatan Hari Kartini 2026. Di antara tanah yang terus dipijak dan langit yang tak pernah membeda-bedakan, perempuan hari ini menulis ulang makna Kartini bukan sekadar simbol dalam bingkai sejarah, melainkan gerak hidup yang tumbuh, merawat, dan menjaga.
Dari akar yang menembus bumi hingga suara yang mengalun lirih, emansipasi kini berjejak panjang, melintasi ruang-ruang yang dulu nyaris tak memberi tempat.
Kartini tak lagi hanya tentang kebaya atau seremoni. Ia adalah keberanian yang menjelma dalam banyak rupa. Dalam ibu yang menyekolahkan anak perempuannya, dalam gadis kecil yang berani bertanya “mengapa,” hingga dalam sosok yang memilih berjalan sunyi namun tetap setia pada keyakinannya. Ia adalah nyala yang tidak selalu tampak terang, tetapi cukup hangat untuk menjaga harapan tetap hidup.
Salah satu jejak itu terlihat pada langkah Endang Pertiwi. Sebagai aktivis lingkungan sekaligus Ketua Yayasan Hijau Daun Mandiri, ia memilih merawat bumi sebagai bentuk perjuangan. Baginya, mencintai alam bukan sekadar kepedulian, melainkan tanggung jawab yang harus diwariskan. Dari membersihkan sungai hingga menandur banyak pepohonan, ia menegaskan bahwa emansipasi juga bisa tumbuh dari tanah yang dijaga dengan penuh kesadaran.
Endang menuturkan, suara perempuan masih kerap dianggap kecil dan mudah diabaikan. Namun ia tidak memilih diam.
“Kami belajar membuktikan bahwa apa yang kami sampaikan bukan sekadar wacana. Harus ada kerja nyata yang bisa dilihat, ada data yang bisa menunjukkan bahwa perempuan juga mampu membawa perubahan,” ujarnya.
Ia juga melihat bahwa zaman telah memberi ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk berdiri sejajar.
“Perubahan itu nyata. Sekarang perempuan punya lebih banyak kesempatan untuk menyampaikan gagasan, bahkan mengambil peran penting dalam berbagai bidang. Meski begitu, tetap ada batas dan tanggung jawab yang harus dijaga agar langkah tidak kehilangan arah,” katanya.
Menurutnya, semangat Kartini tidak harus dimulai dari hal besar. Justru dari lingkup terkecil, perjuangan itu menemukan maknanya.
“Mulailah dari keluarga dan lingkungan sekitar. Jadilah pelopor di tempat kita berpijak. Dari sana, perubahan akan tumbuh dan meluas,” tuturnya.
Warisan Kartini kini hidup dalam bentuk yang lebih luas. Tidak lagi terikat pada satu rupa atau cara. Ia hadir dalam setiap perempuan yang berani menjaga, merawat, dan memperjuangkan kehidupan.
Sebab pada akhirnya, emansipasi bukan sekadar tentang kesetaraan, tetapi tentang bagaimana manusia, baik perempuan dan laki-laki, belajar saling menjaga, seperti bumi yang tak pernah memilih siapa yang berhak berpijak di atasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....